youngster.id - Transformasi digital semakin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi di Indonesia. Pada akhir 2025, sekitar 230 juta orang di Indonesia telah menggunakan internet, atau setara dengan 80,5% populasi. Di saat yang sama, pemanfaatan artificial intelligence (AI) juga mulai meluas ke berbagai aktivitas, mulai dari mencari informasi dan belajar hingga membantu pekerjaan dan produktivitas.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi Indonesia telah bergerak lebih jauh dari sekadar membangun akses internet dan infrastruktur teknologi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana teknologi yang semakin banyak digunakan dapat menghasilkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, dan menciptakan nilai ekonomi.
Perubahan itu juga mulai terlihat di industri telekomunikasi. Operator tidak lagi hanya mengandalkan bisnis konektivitas, tetapi mulai bergerak menuju perusahaan teknologi atau TechCo dengan mengembangkan layanan berbasis AI, Internet of Things (IoT), cloud dan berbagai solusi digital.
VP Head of Ecosystem Regulatory Affairs Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Machdi Fauzi mengatakan, konektivitas tetap menjadi fondasi industri telekomunikasi. Namun, nilai tambah semakin bergeser ke layanan digital yang berada di atas jaringan.
“Konektivitas tetap menjadi fondasi utama, tetapi monetisasi terbesar di masa depan ada pada lapisan atas—seperti aplikasi, solusi digital, dan AI. Kolaborasi antara regulator dan operator adalah kunci utama agar ekosistem digital Indonesia bisa melompat lebih jauh,” ucap Machdi pada The 3rd Digital Transformation Forum (DTF) 2026 yang digelar Selular Media Network, Senin (21/9/2026) di Jakarta.
Hal ini semakin relevan dengan perkembangan AI. Pemerintah menyebut tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92% pada Februari 2026. Namun, tingginya angka adopsi tersebut masih perlu diikuti dengan pemanfaatan yang lebih produktif agar AI tidak berhenti sebagai teknologi yang digunakan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari penciptaan nilai ekonomi.
Perkembangan tersebut mulai tercermin dalam industri perangkat. Country General Manager Motorola Indonesia Bagus Prasetyo mengatakan, perusahaan mengembangkan konsep Hybrid AI yang memadukan pemrosesan kecerdasan buatan di perangkat dengan AI berbasis cloud.
Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan menuju konsep Inter Connected AI, yang memungkinkan kecerdasan buatan bekerja melintasi berbagai perangkat. Motorola juga memperkenalkan Qira dengan konsep one intelligence, every Motorola device, yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman AI di berbagai perangkat, mulai dari smartphone, smartwatch, tablet hingga PC.
Dengan perkembangan tersebut, AI tidak lagi hanya menjadi fitur tambahan pada perangkat. Teknologi ini mulai diarahkan untuk menciptakan pengalaman yang lebih terintegrasi sekaligus membuka peluang baru dalam persaingan industri perangkat.
Semakin luasnya pemanfaatan teknologi membuat transformasi digital tidak lagi menjadi tanggung jawab satu sektor. Kebutuhan terhadap jaringan, perangkat, data, regulasi hingga sumber daya manusia saling berkaitan.
Ketua Bidang Kelembagaan APJII Elly Noor menilai, percepatan ekonomi digital akan sulit dicapai apabila kementerian, lembaga dan pelaku industri masih berjalan sendiri-sendiri.
“Kita semua tidak bisa bekerja sendiri. Masalah-masalah yang dihadapi di lapangan harus kita duduk bersama untuk mencari solusinya. Yang paling penting adalah tidak ada lagi ego sektoral atau bekerja secara silo,” kata Elly.
Bagi industri telekomunikasi, kebutuhan kolaborasi juga berkaitan dengan keberlanjutan investasi jaringan. Indosat menilai regulasi terkait spektrum perlu terus disesuaikan agar biaya investasi tetap sehat dan layanan digital dapat semakin terjangkau.
Efisiensi melalui infrastructure sharing dan spectrum sharing juga menjadi salah satu langkah yang dapat didorong untuk mendukung pengembangan ekosistem digital.
Babak baru digitalisasi Indonesia pun semakin bergeser dari sekadar membangun konektivitas menuju bagaimana teknologi dapat menghasilkan nilai. Di tahap ini, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan berbagai pihak untuk menghubungkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat dan industri.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post