IPO Jadi Opsi Pendanaan Startup di Indonesia

IFSOC

Indonesia Fintech Society (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Indonesia merupakan negara dengan jumlah unicorn terbanyak di ASEAN. Bahkan Indonesia memiliki potensi besar untuk mencetak unicorn baru. Pasalnya dari 11 unicorn berasal dari Indonesia dan saat ini ada sekitar 27 startup centaur yakni valuasi di atas US$100 juta berasal dari Indonesia.

Menariknya sampai saat ini belum ada perusahaan startup unicorn maupun decacorn melantai di bursa. Untuk itu Indonesia Fintech Society (IFSoc) mendorong berbagai perusahaan teknologi Indonesia untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) sebagai upaya penguatan modal.

Ketua Steering Committee IFSoc Mirza Adityaswara mengatakan, langkah ini  akan memberikan fondasi peningkatan pertumbuhan dan daya saing perusahaan hingga tingkat global. Apalagi saat ini, tujuh dari sebelas unicorn Asia Tenggara berasal dari Indonesia dengan total valuasi mencapai US$38miliar. Hak ini membuat  IPO perusahaan teknologi nasional memiliki peran strategis.

“IPO perusahaan teknologi nasional memiliki arti strategis bagi arah ekonomi digital Indonesia termasuk membuka akses lebih luas dan likuid bagi investor yang ingin ambil bagian dalam perkembangan industri ekonomi digital. Oleh karena itu, IFSoc memandang perlunya kebijakan yang tepat untuk memfasilitasi tercapainya potensi pertumbuhan dengan tetap mempertimbangkan kaidah perlindungan terhadap investor minoritas,”  tutur Mirza dalam press briefing IFSoc bertajuk IPO Sebagai Opsi Pendanaan Startup, Rabu (9/6/2021).

Dia memaparkan perusahaan teknologi telah memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan juga mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perusahaan teknologi melakukan berbagai inovasi melalui aplikasi transportasi, fintech, e-commerce, layanan pesan antar, edutech, hingga pendanaan UMKM (P2P Lending) sehingga roda ekonomi dapat terus berjalan di tengah pandemi Covid-19. Bahkan pemerintah telah memanfaatkan fintech untuk mendistribusikan insentif program Kartu Prakerja.

“Hal ini membuat perusahaan teknologi memiliki pertumbuhan yang sangat masif, sehingga membuat adanya kebutuhan akan modal tambahan. Namun saat ini, investor asing masih mendominasi dibandingkan investor lokal,” ujar Mirza.

Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan sektor ekonomi digital berkembang pesat di Indonesia, di mana sekitar 70 startup centaur (valuasi di atas US$100 juta) di Asia Tenggara dan  38% centaur tersebut berasal dari Indonesia. Uniknya, sebagian besar perusahaan tersebut mengandalkan mekanisme pendanaan secara tertutup (private placement). Sedangkan menurut IFSoc, dua tahun terakhir, saham-saham perusahaan teknologi berperan positif dalam menggerakan pasar modal, di negara-negara seperti Amerika Serikat dan China.

Steering Committee IFSoc, Rudiantara, menyampaikan bahwa IFSoc mendukung langkah BEI dalam merancang penyesuaian kebijakan untuk mengakomodasi perusahaan teknologi berskala unicorn dan decacorn untuk melakukan IPO di Indonesia. Mewakili IFSOC, beliau pun ikut serta mendukung inisiatif papan akselerasi dari BEI untuk perusahaan teknologi  non-unicorn agar mendapatkan akses pendanaan yang lebih terbuka baik dari investor dalam negeri maupun asing.

“Semua penyesuaian kebijakan terkait startup yang hendak IPO harus selalu mengedepankan prinsip-prinsip perlindungan investor minoritas dan publik namun juga tetap memberikan insentif yang menarik bagi potensi masuknya pendanaan dari investor global ke Indonesia,” kata Chief RA.

 

STEVY WIDIA

 

Exit mobile version