Sri Mulyani Siapkan 4 Strategi Masuki Era Digital

Sri Mulyani Indrawati,Menteri Keuangan RI. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

youngster.id - Saat ini terdapat 143 juta orang di Indonesia yang sudah terhubung dengan internet. Untuk itu pemerintah telah menyiapkan empat langkah untuk menghadapi era digital.

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam kuliah umum dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, Senin (9/4/2018) di Semarang, Jawa Tengah.

Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, ada empat strategi yang akan dijalankan pemerintah agar Indonesia bisa sukses menyongsong era digital. Strategi itu adalah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan, kesehatan, karakter, nilai, integritas dan agama; peningkatan kualitas dari infrastruktur; kualitas kelembagaan; serta, kebijakan pemerintah.

Pertama adalah faktor manusia, yang meliputi integritas, pendidikan, agama, sosial, dan budaya. Menurut Sri Mulyani, hal ini harus disiapkan mulai sekarang, terlebih lagi Indonesia akan menghadapi bonus demografi. “Posisi pekerja menjadi rawan karena adanya otomatisasi pekerjaan. Semua serba robot. Tapi ingat, ada yang tidak bisa dilakukan robot, critical thinking. Ini keunggulan manusia yang harus dimanfaatkan,” ucapnya.

Baca juga :   Microsoft Luncurkan Microsoft Teams Untuk Pekerja di Era Digital

Sri Mulyani juga menyampaikan, Indonesia akan memiliki 309 juta penduduk pada 2045. Pada ulang tahun kemerdekaan yang ke 100 itu, Indonesia bakal menjadi negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kelima di dunia. Syaratnya, Indonesia harus mampu menjaga tren pertumbuhan ekonominya. Melalui implementasi keempat strategi itu, kata dia, Indonesia bisa membangun fondasi ekonomi, bahkan untuk seluruh dunia.

“Pada 2045, yang tidak bisa digantikan oleh teknologi adalah pemikiran kritis dan rasa empati. Saya berpesan kepada mahasiswa untuk belajar dengan detil agar tidak mudah terbawa arus informasi,” tutur dia. Tanpa memerhatikan hal yang detail, menurut dia akan sulit mencapai kesempurnaan.

Faktor kedua, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, irigasi, bandara, dan pelabuhan memang harus dilakukan. “Yang harus diperdebatkan dengan hebat bukan pembangunannya, tapi keamanan bangunan dan kualitasnya, ini yang harus diperhatikan,” ujarnya.

Selanjutnya adalah faktor sistem kelembagaan harus mampu melayani masyarakat dan tidak melakukan tindak korupsi. “Harus dibudayakan melayani dan efisien. Itu ciri lembaga yang profesional,” tegas Sri Mulyani.

Baca juga :   Google Punya Komitmen Bayar Pajak di Indonesia

Terakhir, adalah faktor kebijakan, terutama di bidang ekonomi. Menurut dia, jika sebuah negara salah dalam mengambil kebijakan, bisa jadi negara tersebut akan rusak.

“Seperti Argentina era tahun 1800-an. Saat itu mereka setara dengan negara Eropa Barat, Belgia atau Netherland. Mereka sempat miskin dan sekarang mulai bangkit. Atau Korsel yang juga diperhitungkan. Apakah mereka bebas korupsi? Tidak. Tapi Korsel terus memperbaiki kebijakannya,” ucapnya.

Sri Mulyani menegaskan jika keempat hal tersebut berjalan baik dan mendapat dukungan, maka perekonomian Indonesia akan diperhitungkan di dunia.

Adapun, untuk mengimplementasikan keempat strategi itu, pemerintah mengalokasikan Rp 444,1 triliun untuk pendidikan, dari total belanja negara Rp 2.220 triliun tahun ini. Sedangkan anggaran untuk kesehatan senilai Rp 111 triliun dan infrastruktur Rp 410 triliun pada 2018. Menteri Keuangan ini optimistis penduduk Indonesia berpotensi mengembangkan kreativitas dan kegiatan ekonomi, dengan memanfaatkan teknologi.

 

STEVY WIDIA