youngster.id - Tren pendanaan terhadap perusahaan rintisan (startup) di kawasan Asia mencatatkan lonjakan signifikan pada kuartal kedua (Q2) tahun 2026. Berdasarkan data Crunchbase, para investor mengucurkan dana sebesar US$42,8 miliar (sekitar Rp693 triliun) ke berbagai startup di Asia. Angka ini menjadi total pencapaian kuartalan tertinggi di kawasan tersebut dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Pertumbuhan tajam ini utamanya didorong oleh gelombang megaround pada pendanaan sektor kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) serta kebangkitan kembali aktivitas investasi di Tiongkok.
“Meskipun total nilai investasi melonjak drastis, jumlah transaksi (deal counts) justru menyentuh titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa aliran modal sangat terkonsentrasi pada segmen dan nama-nama unggulan tertentu,” ungkap Crunchbase, dikutip Selasa (21/7/2026).
Startup AI Menguasai 60% Total Pendanaan
Sektor AI mendominasi lanskap investasi Asia sepanjang kuartal ini dengan menyerap lebih dari 60% dari seluruh total suntikan modal. Secara keseluruhan, startup berbasis AI berhasil meraih dana lebih dari US$26 miliar, sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah di Asia.
Beberapa pemain kunci yang memimpin perolehan dana fantastis ini di antaranya adalah pengembang large language model (LLM) asal Tiongkok, DeepSeek, yang memimpin pasar setelah meraup pendanaan sebesar US$7,4 miliar pada valuasi US$50 miliar pada Juni 2026. Capaian tersebut disusul oleh startup AI fondasional asal Tiongkok, StepFun, yang mengamankan pendanaan sebesar US$2,5 miliar, serta DayOne, pengembang infrastruktur pusat data (data center) AI asal Singapura yang juga menggalang dana dengan nilai sama sebesar US$2,5 miliar.
Tiongkok dan Singapura Pimpin Destinasi Investasi
Sejalan dengan tren AI, Tiongkok mencatatkan pemulihan drastis dengan menarik investasi venture sebesar US$30 miliar, atau melonjak 424% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year). Destinasi investasi terbesar berikutnya di Asia diraih oleh Singapura dengan perolehan US$3,6 miliar dan India sebesar US$3,3 miliar.
Dari segi tahap pendanaan (funding stage), pertumbuhan signifikan dialami di hampir semua tingkatan. Pendanaan Tahap Lanjut (Late Stage) meraup porsi terbesar mencapai US$21 miliar, yang sekaligus menjadi angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, Pendanaan Tahap Awal (Early Stage) mencapai US$18,4 miliar—naik hampir tiga kali lipat dibanding tahun lalu dan menyentuh rekor tertinggi sejak 2021—sedangkan Pendanaan Awal (Seed Stage) tetap berkinerja stabil di angka US$3,7 miliar.
Kendati angka-angka ini memberikan sinyal positif bagi ekosistem bisnis Asia, para investor terpantau masih sangat selektif. Fokus permodalan kini tertuju pada perusahaan dengan fondasi teknologi yang matang dan infrastruktur pendukung AI yang kuat. (*AMBS)
