youngster.id - Di tengah ancaman perubahan iklim, krisis pangan, hingga tantangan ekonomi, muncul pendekatan baru yang mulai mendapat perhatian di Indonesia, yakni ekonomi restoratif. Berbeda dengan model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, pendekatan ini berupaya menciptakan kesejahteraan sekaligus memulihkan lingkungan dan memperkuat komunitas.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan mengatakan, penguatan ekonomi perempuan menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional. Menurutnya, dengan jumlah perempuan yang mencapai hampir separuh populasi Indonesia, potensi tersebut perlu didukung melalui kebijakan yang memberikan ruang, akses, dan kesempatan untuk berkembang.
“Kuncinya adalah ekonomi restoratif, mengembalikan kembali. Tujuan kita bagaimana perempuan yang sudah punya kapasitas ini bisa mendapat ruang, akses, dan berpartisipasi dalam strategi ekonomi nasional,” kata Veronica jumpa media Weaving Wonders: Tenun, Pangan, Energi, dan Perempuan – Dari Warisan ke Kekuatan Ekonomi, Kamis (25/6/2026), di Jakarta.
Veronica menjelaskan, selama ini isu perempuan sering kali hanya dikaitkan dengan perlindungan hukum atau penanganan kasus. Padahal, persoalan ekonomi juga menjadi tantangan besar yang perlu mendapat perhatian.
Karena itu, Kementerian PPPA mengembangkan program Kebun Pangan Perempuan dengan pendekatan yang berbeda. Program ini tidak dibangun dari nol, melainkan memperkuat perempuan-perempuan yang telah menjadi penggerak di komunitasnya melalui akses, pendampingan, dan kolaborasi lintas sektor.
Langkah awal dilakukan di NTT melalui pemanfaatan sekitar 650 hektare lahan Perhutanan Sosial yang dikelola kelompok dengan 93 persen anggotanya merupakan perempuan. Lahan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk memproduksi pangan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan komoditas lokal, edukasi ketahanan pangan keluarga, hingga pelestarian lingkungan.
Konsep ekonomi restoratif juga diwujudkan melalui kolaborasi lintas kementerian, mulai dari penyediaan bibit, pengembangan energi surya, hingga peningkatan kapasitas kelompok perempuan.
Menurut Veronica, ketahanan pangan menjadi pintu masuk yang strategis karena berkaitan langsung dengan kualitas hidup keluarga, termasuk upaya menekan angka stunting.
“Stunting itu sebenarnya berawal dari perut. Karena itu kita mengaitkan program ini dengan Kebun Pangan Perempuan supaya edukasi tentang makanan lokal kembali hidup dan keluarga memiliki akses pangan yang lebih baik,” ujarnya.
Model serupa juga mulai disiapkan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengatakan pemerintah daerah tengah mempersiapkan sekitar 900 hektare kawasan hutan sosial yang nantinya akan dikelola oleh kelompok perempuan dan keluarga.
“Kami sedang menyiapkan inventaris dan legalitasnya. Kurang lebih sekitar 900 hektare hutan sosial akan diberikan kepada keluarga dan perempuan untuk dikelola,” kata Sherly.
Tidak hanya menyediakan lahan, pemerintah daerah juga telah memetakan berbagai komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti aren, cengkeh, pala, dan bambu. Bahkan, kerja sama dengan offtaker telah disiapkan agar hasil produksi masyarakat memiliki pasar yang jelas, termasuk peluang ekspor.
Pendekatan ini diharapkan membuat masyarakat tidak hanya memproduksi bahan mentah, tetapi juga memahami rantai nilai produknya sejak awal.
Sherly menilai banyak potensi daerah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Seperti bunga telang dan kenari yang tumbuh di banyak wilayah Maluku Utara.
“Hal-hal yang ada di depan mata kita sering diabaikan, padahal sebenarnya punya nilai ekonomi yang luar biasa jika bertemu dengan ekosistem yang tepat,” ujarnya.
Meski peluang ekonomi terbuka semakin luas, Sherly menilai pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya melalui bantuan modal atau pelatihan.
Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem yang membuat perempuan bisa terus belajar, saling mendukung, dan memiliki akses terhadap pasar, pendampingan, serta jejaring usaha.
“Modal saja tidak cukup, pelatihan saja tidak cukup, market saja tidak cukup. Perempuan membutuhkan ekosistem yang menguatkan dari hari ke hari, dari minggu ke minggu,” katanya.
Menurutnya, ketika perempuan memiliki kesempatan berkembang secara ekonomi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat.
“Jika perempuan berdaya, anak terlindungi. Ekonomi perempuan bukan hanya tentang menambah pendapatan satu orang, tetapi menjaga kesehatan, pendidikan, dan masa depan keluarganya,” ujarnya.
Program seperti Kebun Pangan Perempuan menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Dari kebun pangan, pemanfaatan komoditas lokal, hingga komunitas di tingkat desa, perempuan dapat menjadi motor ekonomi restoratif yang sekaligus menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan menciptakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post