Startup Masih Kesulitan Akses Modal

Pertumbuhan start-up masih terkendala masalah permodalan. (foto: Stevy Widia/Youngsters.ID)

youngster.id - Pemerintah akan meningkatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di sektor produksi dari 22 % menjadi 40 %. Sayangnya masih banyak pelaku startup dan UKM kesulitan akses permodalan.

Pemerintah juga menargetkan menyalurkan KUR sebesar Rp 110 triliun pada 2017. Bahkan tahun ini suku bunga KUR akan turun dari 9 %menjadi 7 %. Namun akses permodalan bagi usaha raykat tidaklah udah. Apalagi jika mengandalkan lembaga perbankan. Sebagian besar startup masih dinilai tidak bankable.

Wakil Ketua Kadin Jabar Bidang Kemitraan dan Pemberdayaan Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM), Iwan Gunawan mengatakan, persoalan lainnya adalah penyaluran yang belum tepat sasaran karena lebih banyak ke sektor perdagangan.
“Bagi pelaku usaha kecil, aksesnya masih menyulitkan karena adanya persyaratan kolateral. Sementara pelaku usaha kecil umumnya hanya mengandalkan kelayakan usaha,” kata Iwan.

Di sisi lain, ia menilai, perbankan kurang agresif menyalurkan KUR ke sektor hulu seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kelautan. Serapan KUR di sektor tersebut masih sangat minim, padahal merekalah yang menjadi penggerak ekonomi domestik.

Baca juga :   Startup Indonesia Banyak Yang Bisa Jadi Unicorn

Ia menilai, kemudahan akses dan ketepatan penyaluran KUR menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah. Kendati demikian, penurunan suku bunga KUR dinilai Iwan sudah menjadi langkah positif pemerintah dalam mendukung iklim usaha sektor UMKM.

Di sisi lain, ia juga mengimbau agar pelaku UMKM melakukan pembenahan secara internal. Salah satunya melengkapi diri dengan pencatatan prospek, perencanaan usaha, dan pembukuan, agar mereka menjadi bankable.

Co-CEO & Co-Founder Bandung Initiative Movement (BIM), Nur Javad Islami mengatakan, banyak startup yang pada akhirnya menjadi pemilik saham minoritas karena dari asalnya menguasai 100 persen saham, menjadi hanya 1 persen saham. “Pola investasinya banyak yang memberatkan startup,” ujar Nur.

Hal senada disampaikan Project Manager Monicca, Astrajingga Syaifullah Abdurrachman. Menurut dia, akses permodalan bagi mereka tidaklah mudah. Apalagi jika mengandalkan lembaga perbankan. Sebagian besar startup masih dinilai tidak bankable.

“Sebagian besar dari digital startup memang mengandalkan investor asing,” kata pria yang berkiprah pada bidang financial technology tersebut. Untuk perusahaannya sendiri, dari kebutuhan permodalan tahun pertama sebesar 250.000 dolar Amerika Serikat (AS), baru terpenuhi 60 – 70 %. Itu pun, menurut dia, sebagian besar berasal dari investor asing.

Baca juga :   Perbankan Perlu Kolaborasi Dengan Startup Fintech

STEVY WIDIA