Startup Tandatangan Elektronik Peroleh Pendanaan MCI

Marshall Pribadi (kiri) tengah memberikan penjelasan PrivyID ke Menneg BUMN Rini Soemarno (kedua kiri) beserta Dirut PT Telkom Alex J. Sinaga (empat kiri). (Foto: PrivyID/youngster.id)

youngster.id - Layanan solusi digital berupa tanda tangan elektronik (digital signature) memiliki potensi yang cukup besar di Indonesia, terutama bagi konsumen dari korporat besar, perbankan, dan startup fintech lainnya.

Berangkat dari itu, Mandiri Capital Indonesia mengucurkan pendanaan yang cukup besar bagi startup PrivyID. Nominal pendanaan yang diberikan adalah US$500 ribu atau sekitar Rp6,6 miliar.

CEO sekaligus Founder PrivyID, Marshall Pribadi, mengaku bahwa investasi ini akan ia gunakan sepenuhnya untuk peningkatan layanan mereka.

“Pendanaan yang kami peroleh saat ini memang bukan untuk ekspansi, beriklan, kegiatan PR, atau kegiatan menjaring customer lainnya. Kami delapan puluh persen akan menggunakannya untuk infrastruktur,” ungkap Marshall dalam keterangan resmi baru-baru ini di Jakarta.

Marshall menyadari betul bahwa saat ini layanan tanda tangan elektronik bukanlah bidang yang sering digeluti pelaku startup digital di Indonesia. Selain perusahaan luar negeri seperti ID.me, DocuSign, dan SignEasy, entitas lokal yang Marshall pandang sebagai kompetitor PrivyID adalah Lembaga Sandi Negara atau Lemsaneg.

Alasan seperti biaya operasional yang tidak murah serta mahalnya SDM yang ahli di bidang enkripsi digital merupakan kendala dalam layanan solusi digital semacam ini.

Baca juga :   SIRCLO, Raih Transaksi US$ 6 Juta

Tak hanya itu, situasi lain seperti kurangnya edukasi masyarakat seputar pentingnya solusi pengamanan digital seperti tanda tangan elektronik juga memberikan tantangan tersendiri bagi PrivyID dari sisi edukasi. Belum lagi proses pengakuan izin dari instansi pemerintah yang memerlukan tenaga dan waktu tidak sedikit untuk diupayakan.

Meskipun situasinya seperti demikian, namun Marshall tidak menampik bahwa layanan solusi digital semacam ini tetap memiliki potensi yang cukup besar di Indonesia, terutama bagi konsumen dari korporat besar, perbankan, dan startup fintech lainnya. Hal ini terbukti dari jumlah basis pelanggan PrivyID yang sangat besar hingga mencapai setengah juta pengguna di pertengahan tahun 2017.

“Kami memastikan bahwa produk tanda tangan elektronik ini sangat aman dan memiliki autentisitas yang baik. Kami saat ini bahkan tengah memproses lebih dari 3.500 tanda tangan digital per harinya,” ungkap Marshall.

Ia menjelaskan, PrivyID tidak akan berkompromi dengan perkara kerahasiaan data dan kepercayaan konsumen yang telah menggunakan jasa layanan mereka. Marshall menambahkan bahwa saat ini pihaknya telah mengupayakan pembelian sejumlah infrastruktur penting seperti hardware, modul keamanan, dan lain-lain.

Baca juga :   Para CEO Startup Curhat ke Pemerintah

Di samping mengutarakan fokusnya pasca memperoleh investasi dari Mandiri Capital, Marshall juga menyinggung sedikit soal tahap pendanaan PrivyID selanjutnya yang akan diumumkan pada awal tahun 2018 mendatang.

Dengan minimnya kompetitor dalam negeri dan keleluasaan yang ia miliki saat ini, Marshall pun optimis menghadapi pertumbuhan PrivyID di masa depan.

STEVY WIDIA