Startup Terkendala Modal dan Talent

Pertumbuhan start-up masih terkendala masalah permodalan. (foto: Stevy Widia/Youngsters.ID)

YOUNGSTER.id - Pertumbuhan perusahaan rintisan (start-up) di Indonesia masih terkendala masalah permodalan dan talent. Agar perusahaan start-up dapat bertahan dan meningkat (scale-up) maka dibutuhkan akses untuk dana  dan sumber daya manusia.

Hal itu terungkap dalam talkshow Scale-Up Clinic, Kamis (24/3/2016) di Jakarta.

“Dana dari perbankan masih kurang mewadahi karena di bulan pertama setelah peminjaman perusahaan sudah wajib melunasi ke bank. Padahal, untuk perusahaan start-up masa awal merupakan titik dimana mereka belum bisa menghasilkan. Inilah yang menyebabkan perusahaan rintisan kurang berkembang,” ucap Fajar Hutomo Deputi Bidang Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Karena itu menurut Fajar penting untuk mendorong skema permodalan, agar dana ventura semakin besar. Hal tersebut, lanjut dikarenakan dana ventura merupakan solusi permodalan jangka panjang. Perusahaan start-up dapat memperoleh modal dari perbankan, dana ventura, atau public equity (PE). Dari ketiganya, yang paling banyak digunakan adalah perbankan yang kurang mendukung perusahaan rintisan untuk berkembang.

“Selain itu, dana ventura juga bisa memberikan permodalan kepada start-up dengan kurun waktu tertentu meskipun dengan resiko yang tinggi. Namun, dana ventura di Indonesia masih jauh dari apa yang diharapkan karena masih menggunakan modal dari perbankan juga,” katanya.

Berkaitan dengan hal tersebut, lanjut Fajar, pihaknya mendukung adanya POJK No.35 tentang Revitalisasi Modal Ventura. Peraturan tersebut, menurutnya, merupakan sebuah langkah terobosan.

“Dana investor dapat menggunakan dana dari masyarakat yang kemudian akan digunakan untuk investasi ke start-up. Dengan semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi akan mendorong pertumbuhan start-up baru,” jelasnya.

Selain permodalan, menurut Antonny Liem, CEO Merah Cipta Media Grup,  masalah utama startup di Indonesia juga adalah kurangnya talent. “Masih banyak pengusaha di Indonesia yang tidak fokus, mudah puas, dan kurang mau bekerja keras,” kata Antonny.

Hal senada disebutkan Gibran Huzaifah CEO E-fishery. “Talent yang ada sekarang jadi rebutan para startup karena masih kurang,” ungkapnya. Dan keterbatasan manajemen yang berkualitas itu menghambat akselerasi bisnis. “Karena itu ekosistem bisnis harus mendapat dukungan, salah satunya lewat kegiatan mentoring,” ungkapnya.

 

STEVY WIDIA