5 Kebiasaan Digital yang Perlu Diubah di Era AI agar Terhindar dari Ancaman Siber

Microsoft mengingatkan pentingnya lima kebiasaan digital untuk melindungi data pribadi dan menghindari ancaman siber di era AI. (Foto: ilustrasi/istimewa)

youngster.id - Di era kecerdasan buatan (AI), mengenali ancaman siber semakin menantang. Pesan penipuan kini bisa menggunakan bahasa yang meyakinkan, meniru gaya komunikasi orang atau perusahaan tertentu, bahkan menyerupai percakapan yang biasa kita terima.

Laporan Microsoft Digital Defense Report (MDDR) 2026 mencatat, secara global, 73,3% upaya serangan siber melibatkan interaksi pengguna, penyalahgunaan akun valid, rekayasa sosial (social engineering), dan phishing. Microsoft juga mendeteksi lebih dari 46 juta serangan penyamaran identitas melalui email bisnis.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keamanan digital bukan hanya soal melindungi perangkat dari virus, tetapi juga menjaga identitas, membatasi akses terhadap informasi pribadi, dan lebih cermat saat berinteraksi secara daring.

Managing Director Microsoft Indonesia Gunawan Susanto, menekankan pentingnya keamanan dalam pemanfaatan teknologi.

“Di era AI, keamanan siber bukan lagi sekadar persoalan perlindungan, tetapi fondasi yang memungkinkan organisasi dan masyarakat memanfaatkan teknologi yang kita gunakan. Semakin canggih teknologi, semakin penting pula kemampuan kita menjaga dan mengendalikan data serta identitas digital,” ujarnya dikutip Rabu (28/10/2026).

Salah satu contoh ancaman tersebut adalah kampanye Photo.zip yang diidentifikasi Microsoft Threat Intelligence pada Juni 2026. Serangan ini menyasar organisasi di industri perhotelan di Asia dan Eropa melalui email phishing yang menyerupai pesan reservasi, pertanyaan mengenai kamar, atau keluhan tamu.

Penerima diarahkan mengunduh folder ZIP berisi file yang menyamar sebagai foto. Padahal, file tersebut dapat menjalankan program berbahaya dan memungkinkan pelaku mempertahankan akses ke perangkat yang terinfeksi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tautan atau lampiran yang terlihat wajar belum tentu aman. Risiko juga berkembang seiring penggunaan AI agents, yaitu sistem AI yang dapat mengakses informasi dan menjalankan tugas melalui berbagai aplikasi. Karena itu, pengawasan dan pembatasan hak akses tetap diperlukan.

5 Kebiasaan Digital untuk Mengurangi Risiko Serangan Siber

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, menjaga keamanan digital menjadi hal yang makin krusial bagi setiap pengguna internet. Terdapat lima kebiasaan mendasar yang dapat diterapkan untuk memperkuat perlindungan data pribadi dan menghindari potensi siber.

Langkah pertama adalah tidak langsung percaya pada pesan yang meyakinkan, meskipun pesan tersebut menggunakan bahasa yang sopan, mengatasnamakan perusahaan terkenal, atau mengaku dari identitas orang yang dikenal. Pengguna patut mewaspadai permintaan informasi pribadi, tautan yang tidak biasa, atau instruksi mendesak yang meminta penerima bertindak cepat. Jika timbul keraguan, konfirmasi ulang wajib dilakukan melalui saluran komunikasi resmi yang tepercaya.

Selain itu, sangat penting untuk memeriksa tautan dan lampiran sebelum dibuka. Pastikan kejelasan sumber file dan alamat tujuan sebelum mengunduh atau mengeklik tautan tertentu. Untuk keperluan reservasi, transaksi finansial, maupun akses layanan digital, meluncur langsung ke situs atau aplikasi resmi jauh lebih aman dibandingkan mengikuti tautan dari pihak yang belum terverifikasi.

Kewaspadaan ekstra juga perlu diterapkan terhadap penggunaan QR code dan dokumen digital. Ancaman phishing kini sering menyebar melalui media QR code, file PDF, hingga halaman verifikasi palsu. Berdasarkan laporan MDDR 2026, Microsoft Defender for Office 365 mencatat lebih dari 145 juta serangan phishing berbasis QR code secara global pada periode Juli 2025 hingga Juni 2026. Oleh karena itu, selalu periksa sumber serta URL tujuan sebelum memindai QR code, dan hindari memasukkan kata sandi atau kode verifikasi pada halaman yang belum dipastikan keabsahannya.

Upaya perlindungan ini harus disempurnakan dengan langkah melindungi identitas digital secara menyeluruh. Mengingat akun email, media sosial, dan layanan perbankan merupakan inti dari identitas digital, pengguna disarankan menggunakan kata sandi yang kuat dan unik untuk setiap akun serta tidak membagikan informasi pribadi secara berlebihan di ruang siber. Terakhir, selalu aktifkan autentikasi multifaktor (multifactor authentication/MFA) sebagai lapisan verifikasi tambahan. Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur passkey—seperti sidik jari, pemindaian wajah, atau PIN perangkat—serta memilih metode autentikasi yang dirancang tahan terhadap ancaman phishing.

Perkembangan AI membawa kemudahan dalam bekerja, mencari informasi, hingga merencanakan aktivitas sehari-hari. Namun, pengguna juga perlu menyesuaikan cara menjaga keamanan digital.

Tidak semua pesan harus dicurigai, tetapi setiap tautan, lampiran, dan permintaan informasi yang tidak biasa perlu diperiksa. Dengan menjaga identitas digital, membatasi akses, dan membiasakan verifikasi, pengguna dapat mengurangi risiko tanpa harus menghindari teknologi baru.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version