Komputer Kuantum Bisa Ancam Enkripsi Data, Indonesia Perlu Bersiap dari Sekarang

komputer kuantum Enkripsi Data

sesi panel bertajuk “Beyond the Cryptographic Cliff: Quantum, Cyber and The Next Defense” pada AICX 2026. (Foto: istimewa/ITSECAsia)

youngster.id - Perkembangan komputasi kuantum berpotensi mengubah lanskap keamanan siber, terutama dalam perlindungan data yang selama ini mengandalkan sistem enkripsi konvensional. Meski komputer kuantum saat ini belum mampu memecahkan enkripsi RSA yang digunakan secara luas, organisasi perlu mulai menyiapkan strategi perlindungan data untuk menghadapi risiko di masa depan.

Salah satu ancaman yang perlu diantisipasi adalah harvest now, decrypt later, yaitu praktik mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk berupaya membukanya di kemudian hari ketika teknologi memungkinkan. Risiko ini membuat data yang dicuri atau dikumpulkan sekarang berpotensi tetap menjadi sasaran, khususnya jika informasi tersebut harus dirahasiakan dalam jangka panjang.

Wakil Presiden Direktur sekaligus CTO dan Co-Founder ITSEC Asia, Marek Bialoglowy, mengatakan organisasi perlu memulai persiapan sebelum teknologi kuantum berkembang hingga mampu mengancam sistem enkripsi yang digunakan saat ini.

“Persiapan menghadapi ancaman kuantum harus dimulai sekarang, bukan menunggu hingga komputer kuantum mampu memecahkan sistem enkripsi yang kita andalkan,” ujar Marek dikutip Kamis (22/10/2026).

Pernyataan itu disampaikan dalam sesi panel bertajuk “Beyond the Cryptographic Cliff: Quantum, Cyber and The Next Defense” pada AICX 2026 yang diselenggarakan PT ITSEC Asia Tbk.

Menurut Marek, organisasi perlu memetakan sistem kriptografi yang digunakan, mengidentifikasi data paling kritis, dan merencanakan transisi menuju post-quantum cryptography (PQC). Proses migrasi tersebut membutuhkan waktu sehingga perencanaan sejak dini menjadi bagian penting dari strategi perlindungan aset digital, termasuk model dan data yang digunakan dalam pengembangan kecerdasan artifisial (AI).

Post-Quantum Cryptography Jadi Salah Satu Solusi

Sementara itu, Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Andriyan Bayu Suksmono, menilai Indonesia perlu mempertimbangkan skenario perkembangan komputasi kuantum yang lebih cepat dari perkiraan.

Ia menyebut sejumlah prediksi memperkirakan terobosan komputasi kuantum dapat terjadi pada 2030 hingga 2035, meski terdapat pula perkiraan dengan rentang waktu lebih panjang. Karena itu, persiapan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan skenario paling awal.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah PQC, yakni metode kriptografi yang dirancang untuk menghadapi serangan dari komputer kuantum. Menurut Andriyan, algoritma PQC dapat diterapkan pada perangkat yang digunakan saat ini, seperti ponsel, komputer, dan server.

Pendekatan lainnya adalah quantum key distribution (QKD), yang memanfaatkan prinsip kuantum untuk mendukung distribusi kunci komunikasi yang aman. Kedua pendekatan tersebut memiliki mekanisme berbeda dalam menghadapi tantangan keamanan, sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan infrastruktur organisasi.

Kepala Pusat Riset Fisika Kuantum Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Mohammad Hamzah Fauzi, juga menyoroti pesatnya perubahan ekspektasi terhadap perkembangan teknologi kuantum. Menurutnya, agar kemajuan riset dapat dimanfaatkan pengguna, diperlukan kerja sama antara pusat riset dan industri keamanan.

Kesiapan menghadapi era kuantum tidak hanya berkaitan dengan teknologi enkripsi, tetapi juga investasi dalam riset, pendidikan, dan pengembangan talenta. Penguasaan teknologi ini membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari fisika dan rekayasa hingga keamanan informasi serta pengembangan sistem digital.

Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Prof. Dr. Ir. Hammam Riza, menilai teknologi kuantum perlu mulai diperhitungkan dalam pengembangan fondasi teknologi Indonesia, termasuk infrastruktur kepercayaan bagi AI.

“Peta jalan AI saat ini belum mencakup teknologi kuantum, tetapi kuantum akan menjadi bagian dari infrastruktur kepercayaan bagi AI,” ujarnya.

Melalui AICX 2026, ITSEC Asia mendorong kolaborasi antara industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas riset untuk meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi perkembangan teknologi kuantum. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan digital sekaligus membantu organisasi mengantisipasi risiko keamanan data dalam jangka panjang.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version