AI Agents Mulai Jadi Tren Baru, Industri Indonesia Bergerak ke Tahap Implementasi AI

AI Agents Lintasarta

OpenClaw Meetup Jakarta #4 di Jakarta. (Foto: istimewa/lintasarta)

youngster.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia mulai memasuki babak baru. Jika sebelumnya banyak perusahaan masih berada pada tahap eksplorasi teknologi AI, kini perhatian mulai bergeser ke Agentic AI atau AI Agents yang mampu menjalankan tugas secara lebih mandiri untuk mendukung operasional bisnis.

Tingginya minat terhadap teknologi ini terlihat dari penyelenggaraan OpenClaw Meetup Jakarta #4 yang diinisiasi Lintasarta melalui Cloudeka. Acara tersebut berhasil menarik lebih dari 500 pendaftar, menunjukkan meningkatnya antusiasme komunitas teknologi, pengembang, startup, hingga pelaku industri terhadap implementasi AI Agents di dunia kerja.

“Agentic AI menjadi salah satu evolusi paling penting dalam perjalanan transformasi digital. Namun keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh teknologi AI itu sendiri, melainkan oleh kesiapan fondasi digital yang menopangnya,” kata Gidion Suranta Barus, Chief Cloud Officer Lintasarta dikutip Kamis (25/6/2026).

Menurut Gidion, organisasi membutuhkan lebih dari sekadar model AI yang canggih. Keamanan data, integrasi sistem, kesiapan infrastruktur, dan kedaulatan data menjadi faktor penting agar implementasi AI dapat berjalan secara optimal dalam skala enterprise.

Karena itu, Lintasarta terus mengembangkan Intelligent Core, sebuah fondasi digital yang mengintegrasikan konektivitas, cloud, cybersecurity, dan AI dalam satu ekosistem untuk mendukung kebutuhan transformasi digital berbagai sektor industri.

Meningkatnya perhatian terhadap Agentic AI juga sejalan dengan prediksi berbagai lembaga riset global. Teknologi ini dianggap sebagai langkah lanjutan dari generative AI yang selama beberapa tahun terakhir populer melalui chatbot dan asisten virtual.

Berbeda dengan chatbot yang umumnya hanya merespons pertanyaan pengguna, AI Agents dirancang untuk menyelesaikan tugas secara lebih kompleks. Misalnya mengelola alur kerja, melakukan analisis data, mengoordinasikan berbagai aplikasi, hingga mengambil tindakan tertentu secara otomatis sesuai instruksi dan tujuan yang diberikan.

Dalam OpenClaw Meetup Jakarta #4, berbagai topik terkait pengembangan AI Agents dibahas, mulai dari AI automation, AI engineering, multi-agent systems, hingga penerapan Agentic AI untuk kebutuhan industri.

Selain membangun infrastruktur teknologi, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi fokus penting dalam mempercepat adopsi AI di Indonesia.

Melalui gerakan AI Merdeka, Lintasarta mendorong pengembangan ekosistem AI nasional melalui berbagai inisiatif seperti Laskar AI yang berfokus pada pengembangan talenta digital dan AI Indonesia, serta Semesta AI yang mendukung startup dan pengembangan berbagai use case AI di sektor strategis.

“Percepatan transformasi digital tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara komunitas teknologi, akademisi, pemerintah, penyedia infrastruktur, dan pelaku industri agar manfaat AI dapat dirasakan secara lebih luas,” kata Gidion.

Sementara itu, perwakilan OpenClaw, Sofian Hadiwijaya, mengatakan kolaborasi menjadi faktor penting dalam mempercepat implementasi Agentic AI di Indonesia.

“AI Agents memiliki potensi besar untuk mentransformasi cara organisasi bekerja. Namun untuk mewujudkannya dibutuhkan ruang kolaborasi yang memungkinkan komunitas, industri, dan penyedia teknologi saling berbagi pengetahuan serta pengalaman implementasi,” ujarnya.

Dengan semakin banyaknya kolaborasi antara komunitas teknologi, industri, dan pemerintah, Indonesia berupaya membangun ekosistem AI yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version