youngster.id - Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya mencatat sejarah sebagai turnamen dengan 48 negara peserta. Ajang yang diperkirakan disaksikan lebih dari lima miliar orang. Hal itu juga akan menjadi panggung pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam skala besar untuk mendukung penyelenggaraan kompetisi.
AI akan menjadi bagian penting di balik layar penyelenggaraan turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tersebut. Teknologi kecerdasan buatan ini akan digunakan untuk membantu koordinasi 16 kota tuan rumah, mengelola ribuan relawan, hingga menghadirkan pengalaman yang lebih personal bagi penggemar selama turnamen berlangsung.
Transformasi digital itu salah satunya hadir melalui kemitraan strategis antara Salesforce dan FIFA. Perusahaan penyedia platform customer relationship management (CRM) berbasis AI tersebut ditunjuk sebagai Official Tournament Supporter untuk FIFA World Cup 2026 dan FIFA Women’s World Cup 2027.
President dan Chief Marketing Officer Salesforce Patrick Stokes mengatakan, penyelenggaraan Piala Dunia merupakan salah satu tantangan operasional terbesar di dunia olahraga.
“FIFA World Cup adalah momen ketika seluruh dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan pertandingan, dan menyelenggarakannya merupakan salah satu tugas paling kompleks dalam dunia olahraga global,” ujarnya dikutip Jumat (26/6/2026).
Menurut Patrick, kompleksitas penyelenggaraan Piala Dunia membuat teknologi AI tidak lagi hanya menjadi pelengkap, tetapi bagian penting dari sistem operasional turnamen. Dengan 16 kota tuan rumah, puluhan ribu pekerja, relawan, sponsor, serta jutaan penggemar dari berbagai negara, koordinasi menjadi tantangan yang sangat kompleks.
Selain Slack, FIFA juga akan memanfaatkan Agentforce 360, platform AI milik Salesforce yang membantu mengelola komunikasi, menghubungkan berbagai aplikasi kerja, serta mengotomatisasi sejumlah proses operasional.
Patrick juga mengatakan, kolaborasi tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan bagaimana AI dapat membantu penyelenggaraan acara berskala global.
“Bersama-sama, kami akan menunjukkan berbagai kemungkinan yang dapat diwujudkan ketika olahraga paling dicintai di dunia bertemu dengan AI CRM nomor satu di dunia. Kami akan menghubungkan para penggemar, pemangku kepentingan, dan kota-kota tuan rumah dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya,” ucapnya.
Teknologi AI juga akan dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman para penggemar. Pada FIFA Women’s World Cup 2027 di Brasil, Agentforce 360 akan menghadirkan layanan berbasis AI yang mampu menganalisis data pertandingan secara real time sehingga penggemar memperoleh informasi dan layanan yang lebih personal melalui berbagai kanal digital FIFA.
Teknologi tersebut memungkinkan penggemar memperoleh informasi, rekomendasi, hingga layanan yang lebih relevan sesuai kebutuhan mereka tanpa harus menunggu respons dari petugas.
Pendekatan ini menunjukkan bagaimana AI mulai digunakan bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkaya pengalaman penonton selama mengikuti turnamen.
Chief Business Officer FIFA Romy Gai mengatakan penyelenggaraan turnamen sebesar Piala Dunia membutuhkan dukungan teknologi yang mampu menghubungkan seluruh ekosistem yang terlibat.
“Teknologi dan keahlian Salesforce akan membantu mendukung penyelenggaraan dua kompetisi bersejarah ini dengan menghubungkan tim peserta, kota-kota tuan rumah, para relawan, mitra, dan penggemar melalui solusi digital yang inovatif,” ujarnya.
Menurut Romy, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya FIFA membangun penyelenggaraan turnamen yang semakin terhubung secara digital.
Bagi FIFA, penggunaan AI bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun penyelenggaraan turnamen yang lebih terhubung, efisien, dan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi miliaran penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Pemanfaatan AI di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa kecerdasan buatan kini tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga mulai menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan ajang olahraga terbesar di dunia. Bagi jutaan penggemar, dampaknya mungkin tidak selalu terlihat di lapangan, tetapi akan terasa melalui pengalaman menonton yang lebih cepat, personal, dan terhubung secara digital.
STEVY WIDIA
