Serangan Siber Berbasis AI Makin Cepat, Organisasi Hadapi Kesenjangan Visibilitas

Ilustrasi. (Foto: istimewa)

youngster.id - Serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) bergerak semakin cepat, sementara kemampuan organisasi dalam melihat, memahami, dan merespons ancaman belum selalu mampu mengimbanginya. Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan visibilitas yang menjadi salah satu tantangan keamanan siber di kawasan Asia Pasifik (APAC).

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik Adrian Hia mengatakan, perkembangan AI dan konektivitas membuat lingkungan teknologi informasi (TI) dan teknologi operasional (OT) organisasi semakin kompleks. Di saat yang sama, penyerang memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan skala serangan.

“Seiring kecepatan dan konektivitas membentuk kembali lanskap perusahaan dan organisasi modern di kawasan ini, yang terutama didorong oleh AI dan aplikasinya, tim keamanan menghadapi titik buta yang semakin besar di seluruh lingkungan TI dan OT,” kata Hia dikutip Senin (10/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat keamanan siber tidak lagi hanya menjadi perlombaan melawan waktu, tetapi juga menghadapi tantangan berupa kurangnya visibilitas terhadap aktivitas di dalam sistem organisasi.

15.000 Malware Menyamar sebagai Perangkat Lunak Agen AI

Kaspersky mencatat sejumlah tren keamanan siber yang semakin perlu diwaspadai, mulai dari serangan yang dibantu AI, sabotase siber terhadap infrastruktur TI dan OT, hingga aktivitas spionase siber yang semakin canggih.

Sepanjang tahun lalu, Kaspersky mendeteksi dan memblokir sekitar 500.000 file berbahaya unik setiap hari. Jumlah tersebut meningkat 7% dibandingkan 2024.

Ancaman juga mulai menyasar ekosistem AI itu sendiri. Kaspersky mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak agen AI tahun ini.

Menurut Hia, penggunaan agen AI turut menciptakan lapisan baru dalam rantai pasokan teknologi. Agen AI dapat bergantung pada kerangka kerja pihak ketiga, API, dan plugin. Jika salah satu komponen tersebut dikompromikan, ancaman berpotensi menyebar ke sistem lain yang bergantung padanya.

“Agen AI memperkenalkan lapisan rantai pasokan baru. Karena agen secara dinamis bergantung pada kerangka kerja pihak ketiga, API, dan plugin, satu ketergantungan hulu yang dikompromikan dapat menyebar ke seluruh sistem hilir,” ujarnya.

Situasi tersebut memperluas permukaan serangan sekaligus meningkatkan risiko sabotase dan spionase siber. Karena itu, organisasi dinilai perlu memastikan bahwa sistem keamanan mereka tidak hanya mampu menghentikan serangan, tetapi juga memiliki visibilitas menyeluruh terhadap sistem dan ekosistem bisnis.

AI dan Keahlian Manusia Jadi Pertahanan

Di tengah meningkatnya pemanfaatan AI oleh penjahat siber, Kaspersky menilai teknologi serupa juga perlu dimanfaatkan oleh tim keamanan. Perusahaan mengatakan telah mengembangkan teknologi berbasis machine learning (ML) sejak 2004 dengan memanfaatkan telemetri global anonim dari jutaan endpoint.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Kaspersky dalam menggabungkan kemampuan AI dengan keahlian manusia untuk mendeteksi dan merespons ancaman.

“AI bukanlah tambahan di Kaspersky. Selama 20 tahun terakhir, AI telah tertanam di seluruh lapisan teknologi kami, memungkinkan deteksi lebih cepat, otomatisasi lebih cerdas, dan perlindungan yang lebih konsisten,” ujar Hia.

Menurutnya, kolaborasi antara AI dan manusia akan menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan ancaman siber ke depan. Kaspersky menyebut pendekatan tersebut sebagai Human-Machine Intelligence.

 

STEVY WIDIA 

Exit mobile version