youngster.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus mempercepat langkah transformasi digital di seluruh lini operasionalnya. Melalui ajang “G-Bionic Mid-Year Achievement 2026” di Jakarta, produsen panas bumi ini memperkenalkan lima produk inovasi berbasis digital untuk mengejar target optimalisasi aset sebesar 3 gigawatt (GW) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah ini menjadi instrumen strategis PGE dalam menjawab tantangan struktural industri panas bumi, mulai dari risiko eksplorasi yang tinggi hingga besarnya biaya pengembangan proyek. Perusahaan mengintegrasikan rantai bisnisnya secara end-to-end lewat ekosistem G-Bionic yang bertumpu pada pilar People, Process, dan Technology.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa perusahaan kini tengah bergerak menuju tingkat maturitas digital yang lebih maju (advanced) dengan proteksi keamanan siber yang kokoh.
“Pengenalan kelima produk ini didukung penuh oleh infrastruktur cybersecurity yang kuat. Ini bukan sekadar proyek sampingan, melainkan cara baru kita bekerja hari ini dan di masa depan untuk terus berinovasi lebih cepat dan bekerja lebih efisien,” tegas Andi, dikutip Selasa (14/7/2026).
Integrasi 5 Produk Digital dan Dampak Nyata Efisiensi
Ekosistem digital G-Bionic yang diluncurkan mencakup lima platform terintegrasi dengan fungsi spesifik di sepanjang rantai operasi perusahaan: PIMS Historian (Sistem pemantauan operasional pembangkit secara real-time, GENIUS (Asisten kerja pintar berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), G-COMPASS (Sistem digitalisasi manajemen kontrak dan proses pengadaan), PEDAS (Dasbor eksekusi proyek untuk pemantauan lapangan secara real-time), dan G-ENERGYZER (Platform asesmen kompetensi terpusat untuk kesiapan SDM).
Penerapan teknologi ini telah memberikan dampak finansial dan operasional yang terukur di lapangan. Sebagai contoh, analisis data real-time dari PIMS Historian sukses mengoptimalkan kinerja hot well pump (HWP) di PLTP Ulubelu, Lampung. Inovasi ini mendongkrak output produksi pembangkit hingga lebih dari 2 megawatt (MW), yang setara dengan penciptaan nilai (value creation) finansial sebesar US$312.000 (sekitar Rp5,15 miliar).
Di sisi tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance), platform G-COMPASS berhasil memangkas waktu tinjauan kontrak (contract review lead time) hingga lebih dari 60% serta mempercepat proses persetujuan dokumen di birokrasi internal hingga lebih dari 70%.
Guna mendukung kebutuhan riset internal secara cepat tanpa mengorbankan privasi, PGE mengimplementasikan GENIUS. Berbeda dengan platform AI generatif publik yang rentan terhadap kebocoran data, GENIUS bertindak sebagai asisten AI Enterprise mandiri dengan proteksi siber tingkat tinggi. Platform ini terintegrasi eksklusif dengan Sistem Tata Kerja (STK) dan data produksi rahasia milik PGE.
Konsistensi transformasi digital yang dirintis sejak tahun 2023 ini diakui menjadi kunci lincahnya pergerakan perusahaan di pasar energi hijau.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menyatakan bahwa keberhasilan performa ini memicu minat dari pihak luar untuk mereplikasi sistem operasional berbasis data milik PGE.
“Apa yang kita capai hari ini membuktikan bahwa perjalanan tiga tahun membangun budaya kerja berbasis data benar-benar menciptakan efisiensi yang terukur di lapangan. Ini adalah komitmen nyata kita untuk tidak hanya dikenal sebagai perusahaan energi hijau, tetapi juga sebagai pemimpin inovasi digital,” pungkas Ahmad.
HENNI S.



















Discussion about this post