youngster.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menggandeng Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) dan PT Agrotekno Estetika Laboratoris dalam pengembangan Katrili, sebuah inovasi booster pertanian berbasis silika geotermal. Kerja sama ini dikukuhkan melalui penandatanganan Joint Study Development Agreement (JSDA) Project Beyond-Katrili sebagai langkah nyata hilirisasi energi panas bumi.
Katrili hadir sebagai solusi berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas pangan nasional, khususnya di wilayah sekitar operasional panas bumi seperti Sulawesi Utara. Inovasi ini mengintegrasikan riset energi bumi dengan teknologi pertanian modern untuk menghasilkan pupuk penguat tanaman yang ramah lingkungan.
Keunggulan utama Katrili terletak pada kandungannya yang unik, yakni kombinasi antara silika geotermal dan kitosan. Kitosan sendiri dikembangkan dari pemanfaatan limbah kulit udang dan kepiting yang melimpah di Indonesia.
Selain membantu mengurangi limbah lingkungan, kandungan kitosan berfungsi melindungi tanaman dari serangan penyakit, sementara silika berperan memperkuat daya tahan serta kualitas pertumbuhan tanaman. Cara penggunaannya pun praktis, cukup dicampur dengan air dan disiramkan langsung ke tanah sesuai takaran komoditas.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa proyek ini adalah bagian dari strategi besar perusahaan untuk bergerak melampaui produksi listrik (beyond electricity).
“Bisnis panas bumi ke depan tidak hanya berfokus pada listrik, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan. Kami berharap Katrili dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara luas,” ujar Andi, dikutip Senin (27/4/2026).
Senada dengan hal tersebut, Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, Ph.D., menegaskan bahwa pengembangan Katrili merupakan contoh konkret integrasi energi dan pangan. Riset lintas disiplin yang dipimpin oleh Dr. Pri Utami ini menggabungkan ilmu geologi, farmasi, dan pertanian untuk memastikan produk yang dihasilkan bersifat aplikatif bagi petani.
Saat ini, efektivitas Katrili telah diaplikasikan pada berbagai komoditas pangan penting, di antaranya: Tomat varietas Gustavi, Kacang batik, Bawang merah, dan Padi.
Melalui kolaborasi ini, pemanfaatan energi panas bumi tidak hanya mendorong kemandirian energi, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi inklusif melalui sektor pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
.
HENNI S.

















Discussion about this post