youngster.id - Perusahaan keamanan siber, Fortinet, mengumumkan jajaran kapabilitas baru pada platform keamanan endpoint terpadunya, FortiEndpoint. Inovasi ini dirancang khusus untuk membantu organisasi mengadopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) secara aman, melindungi data sensitif, dan menekan risiko siber.
Melalui pembaruan ini, FortiEndpoint mengintegrasikan visibilitas dan kontrol AI terpusat, fitur Data Loss Prevention (DLP) bawaan, penilaian risiko perangkat secara real-time, hingga otomatisasi operasional berbasis FortiAI-Assist. Seluruh fungsi ini dihadirkan dalam satu platform terintegrasi menggunakan satu agen, satu konsol, dan satu lisensi.
Founder, President, dan CTO Fortinet, Michael Xie, mengungkapkan bahwa strategi konsolidasi ini bertujuan menyederhanakan arsitektur IT perusahaan di tengah pesatnya penggunaan agen AI dan aplikasi berbasis AI di tempat kerja.
“Melalui FortiEndpoint, kami memperluas strategi Fortinet Security Fabric dengan mengonsolidasikan keamanan, akses aman, keamanan data, visibilitas AI, serta operasional berbantuan AI ke dalam satu platform endpoint yang ringkas,” ujar Michael, dikutip Sabtu (25/7/2026).
Penguatan FortiEndpoint berfokus pada tiga area inovasi utama yang dirancang untuk menjawab tantangan keamanan siber di era adopsi kecerdasan buatan. Pertama, platform ini mengamankan penggunaan AI dengan menyediakan visibilitas menyeluruh dan kebijakan pengamanan (guardrail policies) terpusat. Langkah ini memungkinkan tim keamanan untuk memantau serta mengontrol penggunaan aplikasi maupun agen AI—baik yang telah terdaftar secara resmi maupun praktik shadow AI yang tidak terdeteksi—langsung dari perangkat kerja pengguna.
Inovasi kedua berfokus pada perlindungan data dari risiko internal. FortiEndpoint melengkapi sistemnya dengan fitur Data Loss Prevention (DLP) bawaan yang secara otomatis menginspeksi pertukaran data sensitif, seperti informasi identitas pribadi, kekayaan intelektual, hingga dokumen keuangan yang diakses oleh aplikasi atau agen AI. Selain perlindungan teknis, fitur ini juga menyertakan panduan kebijakan (user coaching) secara real-time untuk mengedukasi karyawan agar dapat berinteraksi dengan teknologi AI secara aman tanpa mengganggu produktivitas.
Terakhir, FortiEndpoint menghadirkan efisiensi operasional berbasis FortiAI-Assist. Mengandalkan teknologi pemrosesan bahasa alami (natural language), fitur ini membantu analis siber dalam mempercepat investigasi ancaman, menyusun ringkasan analisis secara otomatis, serta menerapkan kontrol akses adaptif yang berlandaskan konsep Zero-Trust untuk meminimalisasi potensi celah keamanan.
Analisis Teknologi dari 650 Group, Chris DePuy, menilai langkah Fortinet ini menjawab kebutuhan mendesak para CISO. Menurutnya, FortiEndpoint memberikan cara praktis bagi perusahaan untuk mengelola risiko AI tanpa harus menambah kompleksitas perangkat lunak baru.
STEVY WIDIA
