Indonesia Percepat Pengembangan AI Berdaulat, Kurangi Ketergantungan Teknologi Asing

Sovereign AI Indonesia

Indonesia Percepat Pengembangan AI Berdaulat, Kurangi Ketergantungan Teknologi Asing (Foto: ilustrasi)

youngster.id - Persaingan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tidak lagi hanya soal menghadirkan teknologi paling canggih, tetapi juga menyangkut kedaulatan digital sebuah negara. Indonesia mulai membangun sovereign AI atau AI berdaulat agar tidak bergantung pada perusahaan maupun negara yang mendominasi pengembangan teknologi AI global.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, penguasaan AI kini telah menjadi faktor strategis yang menentukan daya saing suatu negara. Untuk itu, pemerintah menyiapkan fondasi pengembangan AI berdaulat melalui pembangunan ekosistem AI nasional yang mencakup model AI lokal, infrastruktur komputasi, hingga penguatan talenta digital.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok teknologi global sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penguasaan teknologi oleh negara-negara besar.

“Negara-negara yang di tengah, di middle power ini, mencoba mempromosikan sovereign AI karena pada akhirnya penguasaan teknologi AI ini akan jadi choke point buat negara-negara yang besar ini untuk menjaga dominasi mereka,” kata Nezar dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (26/7/2026).

Menurut Nezar, Indonesia perlu membangun ekosistem AI secara menyeluruh atau full stack, mulai dari infrastruktur dasar hingga aplikasi. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga mampu mengembangkan dan mengelolanya secara mandiri.

“Kalau membangun sovereign AI, semua lapisannya harus dibangun. Mulai dari infrastruktur dasar sampai aplikasi, sehingga kita memiliki ekosistem yang utuh,” ujarnya.

Nezar juga menjelaskan, pembangunan AI berdaulat tidak hanya bergantung pada pengembangan model AI. Pemerintah juga perlu memperkuat berbagai komponen pendukung, seperti pasokan listrik dan air, kapasitas komputasi berbasis GPU, industri semikonduktor, platform digital, hingga pengembangan aplikasi AI.

Selain infrastruktur, Nezar menilai Indonesia memiliki modal besar berupa talenta digital yang mampu bersaing di tingkat global. Tantangan berikutnya adalah memastikan para pengembang dan peneliti memiliki akses terhadap infrastruktur komputasi AI serta kesempatan mengembangkan kemampuan teknis.

“Kalau soal digital talent tidak masalah sepanjang anak-anak muda dan talent-talent kita dapat kesempatan. Mereka bisa mengakses infrastruktur AI, terus ada ilmunya, dan kreativitas serta inovasi-inovasi. Saya yakin di bidang compute cluster itu kita bisa bersaing,” ujarnya.

Menurutnya, dukungan terhadap talenta lokal menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi AI, tetapi juga mampu menciptakan inovasi yang lahir dari dalam negeri.

Manfaatkan Mineral Kritis

Nezar juga menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki cadangan critical minerals atau mineral kritis yang dibutuhkan dalam industri semikonduktor dan infrastruktur AI.

Menurutnya, sumber daya tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus meningkatkan daya tawar di tengah persaingan pengembangan AI dunia.

“Kita punya sumber daya alam yang sekarang sedang diperebutkan untuk infrastruktur AI, yaitu critical minerals, sehingga harus ada langkah-langkah bagaimana dia bisa kita secure agar menjadi salah satu bargaining power kita di dalam global supply chain,” katanya.

Ia menegaskan, pengembangan AI nasional tidak hanya bertujuan mempercepat transformasi digital di dalam negeri, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri teknologi global yang semakin dipengaruhi oleh penguasaan komputasi, semikonduktor, dan rantai pasok mineral pendukung AI.

Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa AI kini dipandang sebagai infrastruktur strategis layaknya energi dan telekomunikasi. Bagi Indonesia, pembangunan sovereign AI menjadi peluang untuk memperkuat kemandirian teknologi sekaligus meningkatkan daya saing di tengah semakin ketatnya kompetisi global.

.

STEVY WIDIA

Exit mobile version