youngster.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang menghadirkan inovasi pemanfaatan energi panas bumi di luar pembangkitan listrik (Beyond Electricity) melalui pengembangan Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert). Teknologi ini memanfaatkan ekses uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) ber-suhu 60–70°C untuk memproses limbah organik menjadi pupuk berkualitas tinggi.
Melalui efisiensi teknologi terapan tersebut, proses pengeringan pupuk organik yang semula memakan waktu konvensional hingga 14 hari berhasil dipangkas secara drastis menjadi hanya 12 jam.
Pengaplikasian inovasi GeO-Fert terbukti meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan pada kegiatan Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert (HAREPAN) di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, sepanjang September 2026. Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang mencatat hasil panen 70 ton kubis varietas Granova di lahan seluas 1,2 hektare, dengan bobot per buah mencapai 6 kilogram—dua kali lipat dibanding rata-rata kubis lokal.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa terobosan teknologis ini menjadi bagian penting dalam peringatan satu abad pengembangan panas bumi nasional.
“Pencapaian para petani memanen 70 ton kubis menjadi bukti nyata pemanfaatan panas bumi di luar sektor listrik. Lewat inovasi GeO-Fert, uap panas bumi hadir membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk bernilai tambah. Itulah semangat Beyond Electricity yang terus kami dorong,” ujar Andi, Jum’at (2/10/2026).
Selain mendongkrak volume panen dengan nilai penjualan mencapai Rp78 juta, penggunaan 30 ton GeO-Fert berhasil menghemat biaya pembelian pupuk petani hingga Rp20 juta. Efisiensi serupa sebelumnya tercatat pada panen raya kentang April 2026, yang mampu menekan biaya produksi dari Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun.
Inovasi GeO-Fert kini diintegrasikan ke dalam ekosistem Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri 6,6 kWp dan penyimpanan baterai 20 kWh. Ekosistem ini menggabungkan pengelolaan limbah, penerapannya pada budidaya komoditas hortikultura (cabai, tomat, labu siam), hingga pengeringan pakan dan hasil bumi menggunakan Geothermal Dry House. (*AMBS)



















Discussion about this post