UGM Resmikan Bank Genetik Sayuran Pertama di Indonesia

Peresmian Bank Genetika Sayuran di UGM. (Foto: ugm/youngster.id)

youngster.id - Sebagai upaya mendukung kedaulatan pangan di dalam negeri Universitas Gadjah Mada (UGM) meresmikan Bank Genetika Sayuran dalam pelestarian plasma nutfah.

Melalui kerja sama antara UGM dan EWINDO diharapkan pendirian Bank Genetika Sayuran ini membuka lebih banyak kemungkinan untuk memperkuat tujuan bersama mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

“Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas terbesar ke-2 dunia. Oleh sebab itu, sumber daya genetik Indonesia perlu diidentifikasi, dilestarikan, dan dikembangkan bersama,” ujar Ika Dewi Ana yang dilansir Humas Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Tanjungtirto, Kalitirto, Berbah, Kabupaten Sleman belum lama ini.

Bank Genetika Sayuran kolaborasi antara UGM bersama EWINDO dilakukan lewat tiga sektor utama, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

UGM tidak hanya menyiapkan mahasiswanya untuk bisa berpartisipasi menjadi lulusan unggul dan tanguh yang siap bekerja di sektor pertanian. Namun, lewat kegiatan penelitian mahasiswa dan peneliti UGM juga melakukan identifikasi untuk pembuatan paspor berbagai sumber genetika sayuran nasional guna penyusunan big data sumber daya genetika Indonesia. Selain itu, mengembangkan kualitas benih yang lebih unggul serta tahan penyakit.

Baca juga :   IWIC Ke-10 Go Global

“Setiap tahunnya kami mengirimkan sekitar 8 ribu mahasiswa KKN di seluruh penjuru nusantara. Sebagian mahasiswa KKN ini akan mengambil dan mengoleksi benih sayur-sayuran,” ungkapnya.

Dia berharap dengan adanya Bank Genetika Sayuran ini nantinya dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi kalangan akademisi dan peneliti, tetapi mampu memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas. Bahkan, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia dan mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

Founder East-West Seed, Simon Groot menyebutkan pendirian Bank Genetika Sayuran ini merupakan langkah besar dalam upaya menjaga sumber daya genetik sayuran di Indonesia. Disamping hal tersebut, melalui fasilitas ini diharapkan kedepan dapat dihasilkan varietas tanaman sayur yang lebih unggul dan tahan terhadap serangan penyakit.

Meskipun saat ini telah dilakukan berbagai penelitian dan menghasilkan varietas sayur baru yang tahan hama. Namun, penelitian-penilitian untuk menmperoleh varietas sayuran yang lebih baik lagi tetap perlu dilakukan.

“Misalnya tanaman kacang panjang, walapun sudah ada penelitian yang menghasilkan varietas yang tahan virus tetapi tetap harus meneliti karena pasti akan ada virus lag,” ujarnya.

Baca juga :   Hargadunia.com Gratiskan Biaya Pengiriman dari Amerika

Adanya Bank Genetika Sayuran ini diharapkannya tidak hanya sebagai tempat menyimpan dan mengoleksi sumber daya genetik sayuran Indonesia saja. Lebih dari itu diharapkan dapat menghasilkan benih unggulan yang bisa dimanfaatkan dan menyejahterakan petani Indonesia.

Bank Genetika Sayuran ini merupakan bank plasma nutfah sayuran pertama yang beroperasi di Indonesia. Dilengkapi dengan sejumlah fasilitas ruang penyimpanan benih berukuran 8×12 m², ruang pengujian benih berukuran 3×6 m², ruang preparasi benih, ruang penerimaan data, ruang pengeringan benih, serta 3 unit screen house nursery masing-masing berukuran 15×18 m² untuk tanaman kacang panjang, cabai, dan mentimun.

Saat ini, Bank Genetika Sayuran telah memiliki koleksi sumber daya genetik tanaman sayuran sebanyak 202 aksesi. Jumlah tersebut meliputi cabai sebanyak 62 aksesi, tomat 12 aksesi, terong 16 aksesi, kacang panjang 30 aksesi, mentimun 25 aksesi.

Berikutnya, melon dan mentimun suri 27 aksesi, buncis 21 aksesi, serta jagung manis dan pulut 9 aksesi. Sumber plasma nutfah tersebut diantaranya merupakan hibah dari koleksi yang dimiliki EWINDO.

Baca juga :   Mahasiswa UGM Unjuk Gigi di Global Ideapreneur Week 2017

Keberadaan sumber daya genetik yang ada di Bank Genetika Sayuran ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan untuk keperluan memperoleh kultivar unggul yang dapat menopang kedaulatan pangan.

 

FAHRUL ANWAR