youngster.id - Laporan edisi ke-4 Visionary CEO’s Guide to Sustainability yang dirilis Bain & Company mengungkapkan bahwa transisi keberlanjutan global telah memasuki era divergensi. Meski investasi teknologi berkelanjutan dari sektor swasta dan pemerintah mencapai US$17 triliun dalam satu dekade terakhir—dengan rekor US$2,4 triliun pada 2025—kemajuannya masih terpusat di sektor energi hijau, bangunan, dan mobilitas.
Menariknya, di tengah dinamika global tersebut, Indonesia menjadi salah satu pasar utama yang menunjukkan dorongan kuat dari sisi adopsi perilaku ramah lingkungan oleh konsumen.
Konsumen Indonesia Jadi Pendorong Utama Gaya Hidup Berkelanjutan
Survei Bain terhadap 7.500 konsumen di lima negara kunci—termasuk Indonesia, AS, Inggris, Italia, dan Brasil—mencatat lonjakan kepedulian lingkungan secara global dari 79% menjadi 85%. Pasar negara berkembang dengan pertumbuhan pesat seperti Indonesia mencatatkan tingkat kepedulian dan adopsi terkuat, terutama didorong oleh pengalaman langsung menghadapi ancaman cuaca ekstrem seperti banjir dan gelombang panas.
Temuan penting terkait tren konsumen di Indonesia dan global menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Pertama, dari segi Adopsi Kebiasaan Hijau, sebanyak 83% responden telah mengadopsi tiga atau lebih kebiasaan gaya hidup berkelanjutan, naik signifikan dari 73% pada 2023. Bahkan di kalangan masyarakat yang mengaku skeptis, hampir separuhnya kini mulai menerapkan pola hidup hijau.
Kedua, adanya kesediaan membayar Premium Price untuk Kesehatan, di mana konsumen bersedia membayar rata-rata 18% lebih mahal untuk produk berkelanjutan, dan angka ini melonjak hingga 24% jika produk tersebut menawarkan manfaat kesehatan langsung. Ketiga, meningkatnya Dukungan pada Bisnis Lokal, terlihat dari lebih dari separuh responden yang makin aktif berbelanja secara lokal guna memperkuat ketahanan rantai pasok sekaligus mendukung perekonomian daerah.
Tantangan Adopsi Teknologi dan Disrupsi AI di Kawasan Asia
Berdasarkan Green Technology Performance Index Bain, adopsi teknologi global masih mengalami ketimpangan. Dari 37 jenis teknologi berkelanjutan, hanya tenaga surya, baterai, dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang mampu melampaui proyeksi 10 tahun terakhir. Sementara 29 teknologi lainnya—termasuk di sektor pertanian dan manufaktur—masih tertinggal karena kendala regulasi dan biaya modal.
Global Head of Sustainability Bain & Company, Jean-Charles van den Branden, menekankan bahwa kondisi divergensi ini harus dimanfaatkan pebisnis sebagai peluang kompetitif, khususnya di wilayah Asia yang menjadi pusat disrupsi dan pasokan energi.
“Para CEO perlu melihat era divergensi ini bukan sebagai kegagalan, melainkan momentum mengambil langkah strategis. Ini mencakup penyelarasan prioritas korporasi untuk memaksimalkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bagi keberlanjutan dan membangun ketahanan iklim,” terang Jean-Charles, Senin (14/9/2026).
Laporan Bain juga mengulas khusus bab “The Energy Transition Runs Through Asia”, mempertegas posisi strategis kawasan Asia—termasuk Indonesia—sebagai penggerak utama investasi, kompetisi manufaktur, dan penentu arah transisi energi global ke depan. (*AMBS)
