youngster.id - Transformasi ekonomi dan keuangan digital (EKD) lintas negara yang dipacu oleh dominasi generasi muda, konektivitas global, dan inovasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diperkirakan bakal mengakselerasi volume transaksi EKD hingga empat kali lipat pada 2030.
Di tengah potensi besar tersebut, pemanfaatan sistem pembayaran digital diposisikan sebagai kunci untuk mengatasi tantangan penurunan rata-rata belanja wisatawan mancanegara (tourist spending) di Indonesia.
Meskipun jumlah kunjungan wisman melonjak dari 11,68 juta pada 2023 menjadi 15,39 juta pada 2025, rata-rata belanja per wisatawan tercatat mengalami penurunan menjadi US$1.267. Kondisi ini menuntut efisiensi dan kemudahan akses transaksi agar aktivitas ekonomi para wisman di dalam negeri dapat berjalan lebih optimal.
Dalam pidato pembukaan hari ketiga FEKDI x IFSE 2026, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menekankan bahwa sistem pembayaran harus berfungsi sebagai katalisator yang menghubungkan pengguna secara langsung ke dalam ekosistem ekonomi nasional.
“Konektivitas yang tidak hanya menghubungkan sistem, tetapi juga menghubungkan pengguna dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas,” tegas Aida, dikutip Senin (28/9/2026).
Penguatan Fondasi Domestik dan Ekspansi Regional
Inovasi konektivitas pembayaran lintas negara dibangun di atas basis infrastruktur digital domestik yang solid. Hingga kini, cakupan pengguna QRIS telah melampaui target Bank Indonesia dengan menembus 69,3 juta pengguna dan memfasilitasi lebih dari 47 juta merchant, di mana 96,7% di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Keberhasilan penetrasi domestik ini memperkuat ekspansi jaringan QRIS Antarnegara. Hingga Agustus 2026, ekosistem pembayaran ini telah terhubung secara resmi dengan enam negara mitra, yaitu Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Sementara itu, koridor kerja sama dengan Hong Kong dan Timor-Leste tengah memasuki tahap pengembangan lanjutan.
Inisiatif tersebut berdampak langsung pada performa transaksi lintas batas: Transaksi Inbound mencapai 17,8 juta transaksi dengan nilai total Rp6,2 triliun. Sedangkan Transaksi Outbound mencatat 5 juta transaksi dengan nilai total Rp1,85 triliun.
Kendati menunjukkan kinerja positif, cakupan koridor QRIS Antarnegara saat ini baru menjangkau sekitar 39,77% dari total wisman yang berkunjung ke Indonesia.
Artinya, masih terdapat sekitar 60% potensi pasar wisman—termasuk pasar utama seperti Australia—yang belum terhubung ke dalam ekosistem pembayaran instan ini. Kondisi tersebut menjadi ruang pertumbuhan strategis bagi Bank Indonesia dan para pemangku kepentingan untuk terus memperluas kemitraan pembayaran internasional di masa mendatang. (*AMBS)


















Discussion about this post