youngster.id - Memasuki satu dekade keberadaannya di Indonesia, Kredivo Group mampu membawa dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Berdasarkan Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo hasil riset bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), penyedia kredit digital ini mencatatkan kontribusi sebesar Rp33 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025, melonjak hingga 10 kali lipat dibanding 2019.
Studi yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif terhadap ratusan pengguna serta pelaku UMKM ini memaparkan bahwa akses kredit yang dibuka Kredivo melalui PayLater dan Pinjaman Tunai (KrediFazz) telah memperluas inklusi keuangan formal, mendorong pemanfaatan dana produktif, serta memberdayakan pelaku usaha kecil.
Menjangkau Kelompok yang Terpinggirkan Sistem Keuangan Formal
Temuan riset mencatat bahwa pada 2025, jumlah pengguna yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo melonjak 10 kali lipat dibanding 2019. Menariknya, 48% di antaranya adalah perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun—dua kelompok yang secara historis paling sulit menjangkau kredit formal akibat ketiadaan riwayat keuangan.
Kredivo juga berfungsi sebagai jembatan menuju ekosistem keuangan yang lebih luas. Sebanyak 23% pengguna mengaku platform ini mempermudah mereka mengakses layanan kredit formal lainnya. Di sektor UMKM, 40,6% peminjam modal usaha memperoleh kredit bisnis pertamanya melalui Kredivo.
Co-Founder & Presiden Direktur Kredivo Indonesia, Umang Rustagi, menyatakan bahwa studi ini mencerminkan perjalanan panjang perusahaan dalam memangkas kesenjangan akses kredit di tanah air.
“Sepuluh tahun lalu, Kredivo Group hadir dengan visi menjembatani akses masyarakat terhadap layanan kredit yang mudah, cepat, dan terjangkau. Kredit digital kini resmi menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang membantu masyarakat membangun riwayat kredit, memenuhi kebutuhan produktif, hingga mengembangkan usaha,” ujar Umang, dikutip Jum’at (11/9/2026).
Dorong Kredit Produktif dan Perilaku Finansial Sehat
Studi ini juga mematahkan anggapan bahwa kemudahan PayLater hanya memicu perilaku konsumtif. Porsi penyaluran kredit produktif Kredivo terus meningkat dari 52,3% pada 2019 menjadi 54,3% pada 2025, yang dimanfaatkan untuk biaya kesehatan, pendidikan, renovasi rumah, dan modal kerja. Pada periode yang sama, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit sebagai modal usaha melesat 15 kali lipat.
Dari sisi manajemen risiko pribadi, kesehatan keuangan pengguna Kredivo berada dalam batas aman. Rata-rata Debt-to-Income Ratio pengguna berada pada kisaran 10–19% dari total pendapatan. Selain itu, 65,7% pengguna tergolong well-literate secara finansial, dan 58,7% pengguna bertransaksi memperoleh kenaikan limit berkat disiplin pembayaran.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan kredit secara sehat ini bagi ekonomi nasional.
“Lebih dari separuh kredit yang disalurkan dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif. Ini menunjukkan bahwa kredit digital berkembang dari alat pemenuhan kebutuhan jangka pendek menjadi instrumen pembentukan kapasitas ekonomi jangka panjang yang didukung literasi tinggi,” jelas Paksi.
Kuasai Pasar Nasional dan Perkuat UMKM Daerah
Kredivo Group kini memegang peranan dominan dalam industri fintech nasional. Selama 2025, PayLater Kredivo menyumbang 30% dari total outstanding PayLater nasional per Februari 2026. Melalui KrediFazz, Kredivo menyumbang 30% dari total nilai outstanding serta 20% dari total akun pengguna fintech lending nasional pada akhir 2025. Jaringan merchant perusahaan pun berkembang 16 kali lipat sejak 2019 hingga mencakup 446 kabupaten/kota, terutama di wilayah tier 2 dan 3.
Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari, menekankan bahwa keberhasilan Kredivo senantiasa diukur dari manfaat nyata bagi masyarakat dan penguatan ekonomi lokal, di mana 96,9% peminjam modal usaha Kredivo merupakan pelaku usaha mikro, dan 34% di antaranya mencatatkan kenaikan omzet antara 10% hingga 40%.
“Ke depan, kami akan terus berupaya memperluas dampak tersebut secara bertanggung jawab, sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ekosistem keuangan Indonesia,” tutup Indina. (*AMBS)
