youngster.id - Aktivitas pendanaan dari perusahaan modal ventura dan ekuitas swasta (private equity/PE) di Asia Tenggara mengalami perlambatan signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan terbaru dari Bain & Company, nilai kesepakatan (deal value) di kawasan ini turun menjadi US$14 miliar (sekitar Rp220 triliun).
Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai US$16 miliar, serta berada di bawah rata-rata tahunan periode 2020-2024 yang juga sebesar US$16 miliar. Penurunan ini mencerminkan pola volatilitas yang lebih luas di kawasan Asia-Pasifik.
“Para investor saat ini tengah bergulat dengan tensi dagang global, valuasi yang tinggi, serta tantangan penggalangan dana (fundraising) yang terus berlanjut,” ungkap Bain & Company, dikutip Rabu (25/3/2026)
Keterpaparan Asia Tenggara terhadap dinamika perdagangan global membuat kawasan ini lebih rentan, terutama untuk sektor-sektor yang terkait dengan aktivitas ekspor, akibat ketidakpastian tarif. Hal ini berkontribusi pada melemahnya aktivitas investasi, meskipun secara keseluruhan jumlah kesepakatan (deal count) di Asia-Pasifik mengalami kenaikan tipis.
Dari total nilai kesepakatan di Asia-Pasifik, Asia Tenggara hanya menyumbang kurang dari 10%, yang merupakan porsi terkecil di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, Asia-Pasifik mencatat total angka US$181 miliar, dengan China, India, dan Australia-Selandia Baru mencatat angka terbesar. Pasar kunci lainnya adalah Jepang dan Korea Selatan.
Sektor teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT) tetap menjadi sektor terbesar, namun proporsinya turun menjadi 25% dari total nilai kesepakatan, mencapai titik terendah dalam 10 tahun terakhir. Sebaliknya, sektor ritel muncul sebagai fokus yang berkembang, mencapai 9,2% dari total nilai kesepakatan, didukung oleh pemulihan pascapandemi dan langkah pemerintah untuk mendorong konsumsi domestik.
Meskipun aktivitas investasi lesu, pasar divestasi (exit) memberikan titik terang. Di seluruh Asia-Pasifik, nilai exit naik 24% dari US$121 miliar di tahun 2024 menjadi US$150 miliar di tahun 2025. Namun, jumlah exit di Asia Tenggara tetap rendah karena ketidakpastian tarif terus meredam permintaan terhadap aset-aset yang digerakkan oleh ekspor.
Penggalangan dana (fundraising) di Asia-Pasifik juga anjlok 37% secara tahunan menjadi US$58 miliar, level terendah dalam lebih dari satu dekade. (*AMBS)


















Discussion about this post