youngster.id - Akses internet di Indonesia terus meluas dalam beberapa tahun terakhir. Namun, hal itu belum diiringi dengan aktivitas belanja maupun jualan online berkembang merata di seluruh daerah. Riset terbaru NEXT Indonesia Center mengungkapkan bahwa pengguna e-commerce di Indonesia masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan, terutama di Pulau Jawa.
Temuan ini menunjukkan bahwa koneksi internet saja belum cukup untuk mendorong pemerataan ekonomi digital.
Berdasarkan pengolahan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 NEXT Indonesia Center mendapati, sekitar 54 juta penduduk atau 19,18% populasi Indonesia tercatat aktif berbelanja secara daring. Sementara itu, masyarakat yang memanfaatkan internet untuk berjualan hanya mencapai 9,7 juta orang atau sekitar 3,43% dari total penduduk.
Peneliti NEXT Indonesia Center Reza Pratama mengatakan, besarnya transaksi e-commerce nasional belum mencerminkan pemerataan ekonomi digital. Menurutnya, akses internet perlu didukung oleh berbagai faktor lain agar masyarakat dapat memanfaatkan platform digital secara optimal.
“Internet memang dapat diakses dari berbagai wilayah, tetapi aktivitas e-commerce tetap bergantung pada kemudahan pengiriman barang, kestabilan sinyal, kemampuan masyarakat berbelanja, dan pemahaman digital. Tanpa perbaikan di aspek tersebut, ekonomi digital berpotensi memperlebar ketimpangan kesejahteraan,” ucapnya dikutip Senin (13/7/2026).
Reza menjelaskan, daerah dengan aktivitas e-commerce tinggi umumnya merupakan kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi, pusat pendidikan, sektor jasa yang berkembang, serta terhubung dengan pusat-pusat ekonomi nasional.
Dari sisi penjual online, Kabupaten Sleman menjadi daerah dengan rasio pelaku e-commerce tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 10,10 persen dari total penduduk. Posisi berikutnya ditempati Kota Salatiga, Kota Yogyakarta, Kota Batu, dan Kota Malang.
Sementara itu, Kota Yogyakarta mencatat rasio pembeli online tertinggi secara nasional dengan 36,98 persen penduduk aktif berbelanja melalui internet. Kota Depok, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Tangerang Selatan, dan Kota Bekasi juga masuk dalam daftar daerah dengan tingkat belanja daring tertinggi.
Menurut Reza, keberhasilan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman tidak terlepas dari berkembangnya sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta tingginya penetrasi internet yang mampu mendorong aktivitas konsumsi sekaligus produksi digital.
Sebaliknya, sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa, khususnya Indonesia Timur, masih menghadapi tantangan besar. Di Kabupaten Maluku Tenggara, misalnya, baru sekitar 23,83 persen desa yang memiliki Base Transceiver Station (BTS), sementara puluhan desa lainnya masih belum mendapatkan akses sinyal internet.
Meski demikian, NEXT Indonesia Center menilai pembangunan infrastruktur telekomunikasi saja belum cukup. Beberapa daerah yang sudah memiliki cakupan BTS tinggi, seperti Kabupaten Kepulauan Aru dan Kabupaten Maluku Barat Daya, masih mencatat rasio pelaku e-commerce di bawah 2,5%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital membutuhkan ekosistem yang lebih lengkap, mulai dari peningkatan daya beli masyarakat, literasi digital, kemudahan sistem pembayaran, hingga biaya logistik yang lebih efisien.
Atas temuan tersebut, NEXT Indonesia Center mendorong pemerintah pusat maupun daerah agar tidak hanya berfokus pada perluasan jaringan internet. Pengembangan ekonomi digital dinilai perlu dibarengi dengan penguatan ekosistem ekonomi daerah agar manfaat e-commerce dapat dirasakan lebih merata dan membuka lebih banyak peluang usaha di berbagai wilayah Indonesia.
STEVY WIDIA
