Indonesia Perlu Siapkan Spektrum Upper 6 GHz agar Tak Tertinggal di Era 6G

MASTEL menggelar Seminar dan Workshop Nasional bertajuk "Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6 GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia. (Foto: istimewa/mastel)

youngster.id - Indonesia dinilai perlu mulai menyiapkan spektrum frekuensi untuk pengembangan jaringan 5G-Advanced dan 6G agar tidak kembali tertinggal dalam adopsi teknologi seluler generasi terbaru. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah menetapkan arah pemanfaatan pita frekuensi Upper 6 GHz (6425–7125 MHz) yang saat ini masih dalam tahap pembahasan kebijakan.

Untuk itu, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) mendorong pemerintah segera menyiapkan pemanfaatan spektrum Upper 6 GHz sebagai fondasi pengembangan jaringan 5G-Advanced dan 6G di Indonesia. Langkah ini dinilai penting agar Indonesia tidak kembali mengalami keterlambatan dalam mengadopsi teknologi telekomunikasi generasi terbaru.

Ketua Umum MASTEL, Sarwoto Atmosutarno, mengatakan pembahasan mengenai pemanfaatan Upper 6 GHz merupakan agenda strategis yang membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, operator telekomunikasi, akademisi, hingga pelaku industri digital.

“Pemanfaatan Upper 6 GHz merupakan agenda strategis yang memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Forum ini menjadi ruang bersama untuk membangun pemahaman yang berbasis data, menyelaraskan perspektif, serta merumuskan rekomendasi yang mampu mendukung pengembangan ekosistem digital Indonesia secara berkelanjutan agar Indonesia tidak mengulang keterlambatan adopsi 5G akibat ketersediaan frekuensi dan ekosistem yang belum memadai,” kata Sarwoto dikutip Senin (13/7/2026).

Menurutnya, kesiapan memanfaatkan spektrum Upper 6 GHz akan menjadi fondasi penting bagi layanan digital masa depan sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam ekonomi digital global.

Saat ini, pemanfaatan pita frekuensi Upper 6 GHz (6425–7125 MHz) masih berada dalam tahap pembahasan kebijakan di Indonesia. Keputusan mengenai alokasi spektrum tersebut diyakini akan memengaruhi investasi digital, pembangunan jaringan telekomunikasi, inovasi industri, hingga pengembangan layanan berbasis teknologi generasi berikutnya.

Untuk memperkuat pembahasan tersebut, MASTEL menggelar Seminar dan Workshop Nasional bertajuk “Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6 GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia.” Forum ini mempertemukan pemerintah, regulator, operator telekomunikasi, penyedia teknologi, akademisi, asosiasi industri, dan pelaku ekosistem digital.

Sejumlah pejabat pemerintah turut hadir, di antaranya Deputi V Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kemenko Polkam Marsda TNI Dr. Eko Dono Indarto, Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Adis Alifiawan, serta Koordinator Ekosistem dan Ruang Digital Bappenas Andreas Bondan Satriadi.

Diskusi juga menghadirkan perwakilan dari berbagai perusahaan dan organisasi seperti GSMA, Telkomsel, Huawei, Qualcomm, XLSMART, Indosat Ooredoo Hutchison, Institut Teknologi Bandung (ITB), Telkom University, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, hingga Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).

Melalui forum tersebut, MASTEL menargetkan lahirnya sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah, mulai dari deklarasi bersama industri yang mendukung pemanfaatan Upper 6 GHz untuk mobile broadband, penyusunan ringkasan eksekutif, dokumen rekomendasi kebijakan, hingga pembentukan Working Group yang akan berfokus pada pengembangan spektrum untuk 5G-Advanced dan 6G.

MASTEL berharap sinergi lintas sektor tersebut dapat menghasilkan kebijakan spektrum yang adaptif dan berkelanjutan sehingga Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat dalam mengembangkan teknologi komunikasi generasi berikutnya sekaligus mempercepat terwujudnya visi ekonomi digital Indonesia 2045.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version