youngster.id - Marketplace Bukalapak (PT Bukalapak.com Tbk) mengumumkan pencapaian kinerja keuangan tahun fiskal 2025 dengan pertumbuhan yang sangat solid. Perseroan berhasil mencatatkan lonjakan pendapatan konsolidasi sebesar 46% secara tahunan (YoY), meningkat dari Rp4,5 triliun pada 2024 menjadi Rp6,5 triliun pada akhir 2025.
Keberhasilan ini didukung oleh performa kuat di kuartal keempat (4Q25) yang menyumbang pendapatan Rp1,8 triliun. Pertumbuhan positif ini merata di seluruh lini bisnis utama, mulai dari sektor gim, pemberdayaan UMKM, hingga investasi digital.
Direktur Bukalapak, Victor Putra Lesmana, menegaskan bahwa perusahaan kini memprioritaskan kesehatan bisnis jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar angka pertumbuhan.
“Tahun 2025 adalah momen penting bagi kami untuk memperkuat fondasi perusahaan dengan berfokus pada strategi yang dapat memberikan nilai jangka panjang kepada stakeholders kami” ujar Victor, Jum’at (13/3/2026).
Segmen Gaming yang menaungi marketplace Itemku dan Lapakgaming menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi pendapatan Rp1,5 triliun pada kuartal keempat saja. Angka ini tumbuh 8% secara kuartalan berkat efektivitas strategi pemasaran dan tingginya aktivitas transaksi akhir tahun.
Sektor Mitra Bukalapak juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan pendapatan 12% secara kuartalan menjadi Rp191 miliar. Peningkatan ini didorong oleh tingginya permintaan produk virtual, seperti mata uang dalam gim (in-game currency) dan voucher isi ulang di kalangan pelaku UMKM.
Lini bisnis investasi melalui platform B-Money mencatatkan pertumbuhan pendapatan paling agresif sebesar 39% secara kuartalan, mencapai Rp25 miliar. Sementara itu, segmen ritel dengan pendekatan omnichannel turut menyumbang Rp74 miliar, naik 12% didorong oleh permintaan musiman akhir tahun.
Perbaikan signifikan terlihat pada posisi EBITDA yang disesuaikan (Adjusted EBITDA). Bukalapak sukses memangkas kerugian EBITDA dari negatif Rp340 miliar pada 2024 menjadi hanya negatif Rp62 miliar sepanjang 2025. Bahkan, pada kuartal keempat, posisi EBITDA sudah berada di angka negatif Rp9 miliar, yang menandakan perusahaan berada di ambang titik impas (break-even).
Dengan cadangan kas, setara kas, serta investasi likuid mencapai Rp17,8 triliun, Bukalapak memiliki fleksibilitas modal yang sangat kuat. Posisi keuangan yang sehat ini memungkinkan perseroan untuk terus melakukan inovasi produk dan mengeksekusi strategi pertumbuhan jangka panjang di pasar digital Indonesia yang dinamis. (*AMBS)
