youngster.id - Tren adopsi teknologi di Asia Tenggara bergerak kian masif, namun kepercayaan konsumen terhadap platform digital bersifat kondisional. Hasil riset bertajuk Southeast Asia Consumer Tech Trust Score yang digagas Vero bersama Kadence International menunjukkan bahwa perbankan dan pembayaran digital menjadi kategori teknologi paling dipercaya, sekaligus yang paling rentan ditinggalkan pengguna saat terjadi insiden keamanan atau kebocoran data.
Studi terhadap 3.000 responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam ini mencatat sektor online banking dan digital payment meraih skor kepercayaan tertinggi masing-masing sebesar 81,7 dan 80,4. Kendati demikian, sektor keuangan digital memikul risiko penghentian penggunaan (churn rate) paling tinggi jika diterpa krisis data atau penipuan daring.
Di Indonesia, sebanyak 42% responden menyatakan bakal langsung menghentikan penggunaan online banking dan 25% untuk pembayaran digital jika layanan tersebut mengalami insiden kebocoran data atau cyber fraud.
Strategist Vero Indonesia, Fuad Arrasyid, menyampaikan bahwa besarnya harapan masyarakat terhadap teknologi perlu dibarengi dengan transparansi dan akuntabilitas penanganan insiden yang teruji.
“Lanskap teknologi Indonesia menanggung banyak harapan nasional, mulai dari akselerasi ekonomi digital hingga inklusi keuangan. Namun, transparansi, rekam jejak yang teruji, dan penanganan insiden yang akuntabel sangat menentukan tingkat kepercayaan konsumen,” ujar Fuad, dikutip Jum’at (31/7/2026).
Penyalahgunaan Data dan Penipuan Daring Jadi Kekhawatiran Utama
Laporan riset ini juga memetakan kekhawatiran utama konsumen di ranah digital. Penyalahgunaan data pribadi disuarakan oleh 49,5% responden sebagai isu krusial. Selain itu, modus penipuan daring (online fraud) menjadi ancaman yang paling meluas karena masuk dalam tiga daftar kekhawatiran utama dari 79% responden.
Secara regional, sebanyak 42% konsumen Asia Tenggara akan langsung berhenti menggunakan suatu platform secara permanen saat insiden serius terjadi. Sikap reaktif paling tegas ditunjukkan konsumen di Filipina (56%), Malaysia (50%), dan Singapura (48%).
Sebaliknya, mayoritas konsumen di Indonesia (54%) dan Vietnam (49%) cenderung lebih moderat dengan memberi kesempatan kedua, yaitu hanya menghentikan penggunaan layanan secara sementara hingga masalah teknis atau krisis terselesaikan.
Executive Account Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, menekankan pentingnya respons krisis yang terbuka untuk memulihkan reputasi perusahaan.
“Kebocoran data bukan lagi sekadar insiden keamanan, melainkan ujian kepercayaan. Membangun kembali kepercayaan tidak cukup melalui pernyataan resmi dari jajaran direksi, melainkan perlu mengedepankan transparansi serta melibatkan pakar keamanan siber independen yang kredibel,” kata Diah.
Riset mencatat bahwa pakar keamanan siber independen menjadi rujukan pasca-insiden yang paling dipercaya oleh konsumen di Indonesia (51%) dan Vietnam (44%).
Kesenjangan Tingkat Penggunaan dan Kepercayaan
Studi Vero dan Kadence International turut mengungkap dinamika menarik terkait kesenjangan antara tingginya penggunaan (usage) dan tingkat kepercayaan (trust). Platform media sosial mencatatkan tingkat penggunaan harian mencapai 79%, namun menempati peringkat kepercayaan paling rendah dengan skor rata-rata 67,8. Sementara itu, teknologi Generative AI menjadi kategori dengan skor kepercayaan terendah atau kedua terendah di seluruh negara survei.
Terkait indikator kredibilitas merek teknologi, konsumen di Singapura (36%), Malaysia (28%), dan Filipina (23%) menilai kepatuhan terhadap regulasi dan izin pemerintah sebagai bukti kepercayaan terkuat. Sebaliknya, mayoritas konsumen di Indonesia (43%) lebih mengandalkan rekam jejak (track record) yang terbukti sebagai tolok ukur utama.
Director Kadence International, Ashutosh Awasthi, menyimpulkan bahwa tingginya angka penggunaan layanan tidak boleh ditafsirkan sebagai bentuk kepercayaan penuh dari konsumen.
“Kesenjangan antara kepercayaan dan penggunaan ini menjadi tantangan besar bagi merek teknologi. Untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan, perusahaan perlu membuat konsumen merasa aman dan yakin untuk terus mengandalkan produk tersebut di tengah dinamika risiko yang ada,” tutup Ashutosh. (*AMBS)


















Discussion about this post