youngster.id - Meningkatnya penggunaan perangkat elektronik turut mendorong lonjakan limbah elektronik (e-waste). Berdasarkan laporan Global E-waste Monitor 2024, Indonesia menjadi salah satu penghasil limbah elektronik terbesar di Asia Tenggara dengan timbunan mencapai 1,9 juta ton pada 2022. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di Indonesia.
Untuk mendorong pengelolaan limbah elektronik yang lebih bertanggung jawab, Acer Indonesia bersama EwasteRJ meluncurkan program Sayang Bumi 2026 yang menantang 50 SMA di Jabodetabek mengumpulkan 5 ton e-waste hingga November 2026.
“Tahun ini kami memilih hadir di sekolah karena kami percaya bahwa generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan adalah generasi yang akan menentukan seperti apa bumi ini dua puluh hingga tiga puluh tahun ke depan,” kata Leny Ng Presiden Director Acer Indonesia pada peluncuran program Kamis (11/6/2026) di SMAN 82, Jakarta.
Acer menyebut program ini sebagai gerakan pengumpulan e-waste berbasis sekolah terbesar di Indonesia. Gerakan ini disediakan sepenuhnya gratis (100% tanpa biaya) bagi seluruh sekolah yang berpartisipasi. Titik pengumpulan tersedia di 50 sekolah peserta. Program ini juga terbuka bagi seluruh masyarakat yang ingin berkontribusi dalam pengelolaan limbah elektronik secara bertanggung jawab. Untuk itu akan ada sejumlah titik tambahan di wilayah Jabodetabek yang akan diumumkan secara bertahap
Menurut Leny, program Sayang Bumi telah berlangsung selama enam tahun. Pada tahun 2025, gerakan ini berhasil mengumpulkan lebih dari 3 ton e-waste dan menanam 2.000 bibit pohon sebagai langkah konkret menekan jejak karbon dan mendukung pemulihan ekosistem.
“Kami ingin melangkah dengan mendorong lebih banyak generasi muda untuk terlibat bersama dalam pengelolaan limbah elektronik secara bertanggung jawab, dan di saat yang bersamaan juga membangun kesadaran bahwa langkah kecil bisa membawa dampak untuk bumi,” katanya lagi.
EwasteRJ sebagai mitra edukasi sekaligus mitra daur ulang bersertifikasi juga akan melakukan workshop e-waste yang akan menjangkau ribuan siswa sepanjang Juni hingga November 2026. Setiap sekolah didorong untuk melahirkan perwakilan siswa yang akan menjadi penggerak nyata bagi rekan-rekannya melalui program #SayangBumi Changemaker.
Founder & CEO EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan, mempertahankan gerakan lingkungan dari nol memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan harus secara kolektif.
“Kami berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya pengelolaan limbah elektronik,” ujarnya.
Selain mendukung pelaksanaan workshop dan kunjungan ke sekolah, EwasteRJ juga memastikan limbah elektronik diproses secara aman, sesuai standar, dan ramah lingkungan. Pada tahun sebelumnya, gerakan ini berhasil mengumpulkan lebih dari 3 ton e-waste dan menanam 2.000 bibit pohon sebagai langkah konkret menekan jejak karbon dan mendukung pemulihan ekosistem.
“Kolaborasi kami melalui Sayang Bumi 2026 ini bukan sekadar program, ini undangan bagi anak-anak muda Indonesia untuk memimpin perubahan, bukan menunggu orang lain melakukannya,” pungkasnya.
Secara global, laporan Global E-waste Monitor 2022 mencatat sekitar 62 juta ton e-waste dihasilkan setiap tahun, dengan lebih dari 77% di antaranya belum dikelola atau didaur ulang secara benar.
STEVY WIDIA
