youngster.id - PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH) bersama Arsari Group meluncurkan PT Infra Fiber Teknologi (IFT) sebagai platform infrastruktur fiber digital independen terdepan di Indonesia. Peluncuran ini menandai rampungnya transaksi strategis senilai Rp11,7 triliun yang telah diinisiasi sejak Desember 2025.
Kehadiran IFT ditujukan untuk memperkuat tulang punggung infrastruktur digital nasional melalui model bisnis akses terbuka (open-access), sekaligus mendukung percepatan implementasi teknologi masa depan seperti Kecerdasan Artifisial (AI) dan jaringan 5G di Tanah Air.
Sebagai platform independen, IFT langsung mengelola lebih dari 86.000 kilometer (km) jaringan fiber yang mencakup: Jaringan backbone, kabel bawah laut domestic, dan jaringan akses digital.
Langkah strategis ini diambil untuk mengatasi tantangan kesenjangan konektivitas di Indonesia. Menariknya, sebaran jaringan IFT dirancang inklusif dengan komposisi 45% di Pulau Jawa dan 55% di luar Pulau Jawa, termasuk wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur.
Melalui model open-access, IFT akan memperluas kemitraan grosir (wholesale) dengan berbagai operator telekomunikasi, perusahaan, hyperscaler, serta penyedia layanan digital di seluruh pelosok nusantara.
Struktur Kepemilikan Saham PT Infra Fiber Teknologi
Dalam skema divestasi ini, Indosat bersama anak usahanya, PT Aplikanusa Lintasarta, secara resmi mengalihkan kepemilikan saham mereka kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT), yang merupakan platform investasi strategis milik Arsari Group.
Melalui rampungnya transaksi tersebut, terbentuk rincian akhir struktur kepemilikan saham pada platform IFT. Porsi kepemilikan mayoritas kini dipegang oleh kolaborasi antara Arsari Group dan Northstar melalui PT Ainfrastruktur Indonesia Raya (AIR) dan NFT sebesar 50,1%, yang sekaligus memberikan mereka kendali penuh atas seluruh aspek operasional IFT.
Sementara itu, Indosat Ooredoo Hutchison Group tetap mempertahankan kepemilikan strategis jangka panjang dengan total porsi efektif sebesar 49,68%, yang terbagi atas kepemilikan Indosat secara langsung sebesar 49,1% dan PT Aplikanusa Lintasarta sebesar 0,8%.
Dari total divestasi aset fiber ini, Indosat Group mengantongi dana bruto sebesar Rp11,7 triliun. Dana segar tersebut akan dialokasikan penuh untuk memperkuat bisnis inti perusahaan, mempercepat perluasan jaringan 5G, serta mengembangkan ekosistem layanan digital berbasis AI. Dalam aksi korporasi skala besar ini, Citi bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif bagi Indosat.
Aryo P.S. Djojohadikusumo, Deputy CEO & COO Arsari Group, menegaskan pentingnya pemerataan infrastruktur digital bagi ekonomi masa depan.
“Kami menghadirkan pemimpin yang tidak hanya memahami bagaimana membangun dan mengelola infrastruktur dalam skala besar, tetapi juga memahami mengapa hal itu penting bagi masyarakat yang terhubung, dunia usaha, serta posisi Indonesia dalam perekonomian digital global,” ujar Aryo, dikutip Jum’at (3/7/2026).
Senada dengan hal tersebut, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menjelaskan bahwa IFT merupakan perwujudan visi “Teknologi bagi Semuanya”.
“Dengan menghadirkan infrastruktur fiber kelas dunia berbasis open-access, kami ingin memastikan manfaat AI, cloud, dan layanan digital generasi berikutnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh seluruh masyarakat,” kata Vikram.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Infra Fiber Teknologi, Hendry Syam, menambahkan bahwa mandat utama IFT adalah menjangkau daerah-daerah yang selama ini belum terlayani secara optimal (underserved). IFT berkomitmen membangun kapabilitas operasional berkapasitas tinggi guna mendorong efisiensi biaya serta memperkuat ketahanan jaringan digital Indonesia.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post