youngster.id - Tekanan makroekonomi, fluktuasi nilai tukar Rupiah, hingga dinamika geopolitik global memicu tantangan berat bagi industri properti Indonesia. Lonjakan harga bahan baku dan pelemahan daya beli masyarakat berimbas pada anjloknya penjualan rumah hingga 25,67% (YoY) pada kuartal I 2026.
Namun di tengah tren penurunan gairah investasi properti nasional, Cove—penyedia hunian co-living modern—justru mencatatkan performa sebaliknya. Cove mencatat lonjakan minat pemilik aset untuk mengonversi properti mereka menjadi co-living sebesar 40%. Kontras ini membuktikan bahwa co-living hadir sebagai opsi investasi properti yang tangguh dan resilien.
“Cove meluncurkan layanan konsultasi pembangunan co-living setelah melihat banyaknya pemilik aset yang tertarik dengan ketangguhan lini bisnis ini, namun belum berpengalaman untuk memulai. Bahkan di tengah kondisi industri yang pesimis, Cove justru mencatatkan penambahan hampir 1.000 kamar co-living di Indonesia pada semester I 2026, dengan rata-rata occupancy rate sebesar 85%,” ungkap Rizky Kusumo, Country Director of Investment Cove.
Pemilik Aset Manfaatkan Lahan Idle, Jakarta dan Surabaya Jadi Ceruk Utama
Fenomena ini menarik banyak pemain baru untuk mengalihkan aset properti agar tetap produktif, alih-alih menahannya. Menariknya, sekitar 70% permintaan konsultasi kepada Cove datang dari pemilik tanah kosong perorangan (umumnya aset keluarga) yang memiliki lahan seluas 800–1.000 meter persegi hingga di atas 1.500 meter persegi. Sisa permintaan berasal dari pemilik ruko non-produktif yang ingin mengubah fungsinya menjadi hunian yang lebih stabil dan prediktif.
Dari sisi geografis, Jakarta dan Surabaya menjadi dua kota dengan minat konversi aset ke co-living terbesar. Jakarta memimpin pasar secara signifikan dengan volume permintaan konsultasi mencapai 200% lebih tinggi ketimbang Surabaya, yang didorong oleh tingginya kebutuhan para pekerja untuk memangkas waktu commuting harian ke pusat bisnis. Sementara itu di Surabaya, pertumbuhan permintaan ditopang oleh statusnya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia yang terus menjadi magnet utama bagi para pekerja maupun mahasiswa dari luar daerah.
Di Jakarta, kawasan Cipete dan Setiabudi menjadi dua titik utama yang mencatatkan penambahan 200–300 kamar co-living dalam setahun terakhir. Contoh nyata kesuksesan proyek dari tanah kosong lewat konsultasi Cove adalah Cove Dra House di Menteng, yang rampung pada 2025 dan konsisten mempertahankan tingkat okupansi di atas 80%.
Sebagai pemain co-living utama di Indonesia, Cove kini telah hadir di lebih dari 200 lokasi dan menjadi pilihan bagi lebih dari 30.000 penghuni serta turis/wisatawan setiap bulannya. Jaringan propertinya tersebar di beberapa kota yang mencakup area Jabodetabek, Bandung, Bali, dan Surabaya. Selain Singapura dan Indonesia, Cove telah memperluas operasinya ke Jepang dan Korea Selatan sebagai bentuk dari ekspansi di Asia Pasifik.
.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post