youngster.id - Lonjakan investasi di sektor data center di Indonesia menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan kapasitas penyerapan dan transmisi jaringan listrik domestik. Di kawasan Jawa-Madura-Bali (Jamali), jaringan kelistrikan diproyeksikan hanya mampu menyerap 3.207 megawatt (MW) dari total proyeksi permintaan data center tegangan tinggi yang diperkirakan melampaui 12.000 MW pada periode 2026 hingga 2030.
Kondisi ini menciptakan hambatan operasional bagi para pengembang data center yang membutuhkan sambungan listrik cepat dalam kurun waktu 18 bulan. Di sisi lain, proses konstruksi fisik gardu induk permanen oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN umumnya membutuhkan waktu hingga 24 bulan.
Vice President Strategic Planning and Transmission Asset Management PLN, Imam Makhfud, menjelaskan bahwa perseroan mempertimbangkan penggunaan gardu induk bergerak (mobile substation) sebagai solusi taktis untuk mengatasi kesenjangan tenggat waktu tersebut sekaligus menekan risiko aset terbengkalai (stranded asset).
“Gardu induk bergerak sangat efektif menutup kesenjangan antara kebutuhan listrik data center dan waktu pembangunan jaringan,” ujar Imam, seperti dilansir The Asian Business Review, Senin (2/11/2026).
Keterbatasan Jaringan Transmisi dan Ancaman Pembebanan
Meskipun sistem kelistrikan Jamali memiliki total kapasitas pembangkit mencapai 49,2 gigawatt (GW) dengan cadangan daya (reserve margin) di kisaran 33% hingga 35%, masalah utama sebenarnya tidak terletak pada ketersediaan pasokan daya, melainkan pada keandalan jaringan transmisi dan gardu induk penyalur. Gardu induk di lokasi strategis data center seperti Deltamas, Cibatu, dan Cirata diproyeksikan mengalami pembebanan di atas 90% pada 2026 dan 2027 jika terjadi gangguan komponen.
Untuk memitigasi risiko tersebut, PLN mengakselerasi penguatan jaringan di luar rencana awal Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, khususnya di wilayah industri Karawang, Tambun, Margakarya, dan Pasir Ranji.
Executive Vice President Retail and Commerce PLN, Nayusrizal, menegaskan bahwa penahapan kapasitas beban kini dilakukan secara ketat melalui infrastruktur sambungan khusus.
“Pelanggan data center membutuhkan infrastruktur sambungan khusus. Energi hijau disalurkan melalui transmisi dan gardu induk, lalu dikirim lewat infrastruktur sambungan khusus,” jelas Nayusrizal.
Ekspansi Pemain Global dan Tantangan Regulasi
Tinggi dan cepatnya pertumbuhan pemrosesan data nasional dipicu oleh masuknya raksasa teknologi dunia seperti Microsoft, Google, Amazon Web Services, dan Oracle. Berdasarkan proyeksi YCP Holdings mengutip riset Ember Energy Research, konsumsi listrik data center Indonesia diperkirakan melonjak empat kali lipat menjadi 26 terawatt-jam (TWh) pada 2030.
Sejauh ini PLN telah mengalokasikan kapasitas listrik di atas 1 gigavolt-ampere (GVA) untuk operator Big Data Exchange (BDx) dan Digital Edge di Jabodetabek, serta kontrak 450 MW dengan DayOne Data Centers di Batam. Namun, Director YCP Holdings, Jason Ong, menilai investor asing lebih berfokus mendanai fasilitas komputasi ketimbang membangun fasilitas pembangkit listrik sendiri.
Tantangan pasokan listrik ini diperberat oleh ketidakpastian regulasi domestik. Model pasar listrik pembeli tunggal (single buyer), aturan akses transmisi pihak ketiga yang belum rampung, serta dinamika ekspor energi hijau sebesar 3,4 GW ke Singapura semakin memperketat kompetisi perebutan pasokan listrik terbarukan bagi industri data center di dalam negeri. (*AMBS)
