youngster.id - Jaringan kedai kopi modern asal Indonesia, Fore Coffee, terus memperluas jaringan operasionalnya di tengah pertumbuhan pasar kopi domestik yang kian kompetitif. Kendati telah mengoperasikan lebih dari 360 gerai di Indonesia dan Singapura sejak diluncurkan pada 2018, strategi ekspansi perusahaan kini lebih berorientasi pada ketepatan alokasi modal dan performa finansial di setiap titik gerai baru.
Pasar kopi modern di Indonesia sendiri mencatat nilai Gross Merchandise Value (GMV) sebesar US$1,04 miliar pada 2025, berdasarkan riset dari Momentum Works. Guna menangkap peluang tersebut, Fore menerapkan pendekatan selektif dalam menentukan lokasi gerai dengan memadukan data pasar, performa gerai eksisting, asesmen lokal, serta kalkulasi masa pengembalian modal (payback period) di tingkat gerai individu.
Director of Corporate Strategy and Development Fore Coffee, Fahmi Rachmattulah, menjelaskan bahwa pemanfaatan data memegang peranan krusial dalam menentukan titik ekspansi perusahaan.
“Ketika menentukan lokasi ekspansi, kami memberikan penekanan kuat pada beberapa indikator, seperti arus lalu lintas (traffic flow), kepadatan penduduk, profil demografi, fasilitas publik di sekitar lokasi, serta penempatan strategis situs yang dapat memengaruhi visibilitas calon gerai Fore,” ujar Fahmi, seperti dilansir ACV Capital, dikutip Selasa (12/10.2026).
Validasi Lapangan dan Kepemilikan Langsung Gerai Pasca-IPO
Proses seleksi lokasi tidak hanya bergantung pada analitik data, melainkan melibatkan tim operasional secara langsung guna melakukan observasi lapangan dan verifikasi potensi bisnis. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi perbedaan preferensi permintaan konsumen di setiap wilayah, termasuk ekspansi ke kota-kota lapis kedua (Tier 2) dan ketiga (Tier 3). Sepanjang semester pertama 2026, lebih dari 40 gerai baru Fore Coffee dibuka di Indonesia, dengan porsi lebih dari 40% berada di luar kota besar utama.
Dari sisi pendanaan ekspansi, struktur permodalan Fore mengalami pergeseran pasca penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) pada April 2025. Perusahaan berhasil meraup dana lebih dari Rp353 miliar dengan perolehan bersih lebih dari Rp337 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan gerai baru Fore Coffee dan Fore Donut serta modal kerja.
Dengan pendanaan langsung tersebut, Fore menghentikan skema kemitraan (partnership scheme) dan mengelola seluruh gerainya secara mandiri guna menjaga kontrol kualitas operasional serta pengalaman pelanggan. Hasil IPO tersebut ditargetkan mendukung pembangunan hingga 140 gerai Fore Coffee baru dan 30 gerai Fore Donut.
Pertumbuhan Pendapatan dan Margin Semester I 2026
Strategi ekspansi yang terukur ini tercermin pada kinerja keuangan perusahaan. Pendapatan Fore pada paruh pertama 2026 tercatat menembus Rp1 triliun, atau tumbuh 52% secara year-on-year (yoy).
Kinerja profitabilitas turut menunjukkan tren positif di tengah penambahan jumlah gerai aktif yang melonjak 44% menjadi 377 gerai: EBITDA meningkat 65% menjadi Rp216 miliar. Sedangkan Margin EBITDA naik menjadi 21,5% dibanding 19,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan margin ini didorong oleh peningkatan volume penjualan yang mampu menekan biaya tetap per gerai di tengah tingginya konsumsi rumah tangga nasional, yang tercatat tumbuh 5,06% yoy pada kuartal II-2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Ke depan, tantangan utama bagi Fore bukan lagi sekadar kecepatan penambahan gerai, melainkan konsistensi profitabilitas dan ketepatan ekonomi modal di setiap lokasi baru yang dibuka. (*AMBS)

















Discussion about this post