youngster.id - Pendiri Amazon, Jeff Bezos, kembali menduduki kursi CEO untuk pertama kalinya sejak meninggalkan raksasa e-commerce tersebut pada 2021. Kali ini, Bezos memimpin Project Prometheus, sebuah startup kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ambisius yang baru saja keluar dari mode senyap (stealth mode). Bezos memimpin perusahaan ini bersama Vik Bajaj, mantan eksekutif Google X.
Dilaporkan oleh Semafor, Prometheus berhasil menggalang dana fantastis sebesar US$12 miliar (sekitar Rp192 triliun) dan langsung mencatatkan valuasi awal sebesar US$41 miliar (sekitar Rp656 triliun).
Berbeda dengan OpenAI (pembuat ChatGPT) atau Anthropic yang melatih model AI berbasis teks dari internet, Prometheus fokus pada sektor manufaktur dan infrastruktur.
“Sesuatu yang saat ini membutuhkan 100 insinyur dan waktu 10 tahun untuk dibangun, jika Anda bisa mengubahnya menjadi hanya butuh 10 insinyur dalam waktu satu tahun, maka Anda akan mendapati jauh lebih banyak hal yang bisa dibangun,” ujar Bezos, Jum’at (12/6/2026).
Target utama Prometheus adalah menciptakan apa yang disebut Bezos sebagai “artificial general engineer”—sebuah sistem AI yang dirancang khusus untuk dunia fisik. AI ini akan menyerap data dari dunia nyata untuk mempercepat proses manufaktur berbagai hal, mulai dari gedung pencakar langit, ponsel pintar, hingga mesin jet.
Nilai investasi dan valuasi Prometheus yang masif dinilai sangat tidak biasa untuk sebuah startup yang baru berdiri. Menariknya, pendanaan ini tidak hanya datang dari modal ventura (venture capital) biasa, melainkan dari institusi finansial kelas berat Wall Street. Investor utama di balik Prometheus: JPMorgan Chase, BlackRock, Goldman Sachs, DST Global, Arch Venture Partners, dan Investasi Pribadi Jeff Bezos.
Keterlibatan nama-nama besar seperti BlackRock dan Goldman Sachs menunjukkan bahwa tren AI kini mulai bergeser. Industri tidak lagi melihat AI hanya sebagai alat digital spekulatif (seperti menulis teks atau kode), melainkan sebagai teknologi yang siap mentransformasi sektor riil dan manufaktur.
Meski membawa modal jumbo dan nama besar Jeff Bezos, Prometheus dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Mengembangkan AI untuk dunia fisik jauh lebih rumit daripada melatih Large Language Model (LLM) berbasis teks.
Beberapa tantangan utama yang harus dihadapi meliputi: Data yang Lebih Rumit-data dunia fisik jauh lebih berantakan (messier) dibandingkan data teks digital, Respons yang Lambat-siklus umpan balik (feedback loops) untuk pengujian fisik membutuhkan waktu lebih lama, Risiko Fatal-toleransi kesalahan dalam mendesain mesin jet atau infrastruktur jauh lebih rendah daripada sekadar kesalahan draf email, dan Kompetisi Ketat-pasar AI industri mulai padat oleh startup robotika, serta raksasa petahana seperti Siemens dan Autodesk yang juga terus berinovasi.
Dengan pengalamannya selama puluhan tahun dalam membesarkan skala logistik dan operasi perangkat keras Amazon, Jeff Bezos dinilai berada di posisi yang tepat untuk menjembatani celah tersebut. Prometheus kini harus membuktikan bahwa modal US$12 miliar tersebut mampu melahirkan model AI yang lebih unggul dan efisien daripada alur kerja teknik tradisional. (*AMBS)
