youngster.id - Industri teknologi finansial (FinTech) atau yang juga dikenal sebagai BFSI Tech terus menjadi salah satu motor penggerak utama digitalisasi ekonomi di Indonesia. Berdasarkan data intelijen pasar terintegrasi Tracxn, sektor tekfin tanah air kini menaungi sebanyak 1,96 ribu perusahaan rintisan (startup).
Dari total lanskap tersebut, sebanyak 326 perusahaan berstatus funded companies yang secara kolektif telah berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$6,61 miliar (sekitar Rp108 triliun) dari sektor venture capital dan private equity. Sebanyak 128 startup di antaranya telah sukses melangkah ke pendanaan tahap Seri A ke atas (Series A+), sementara 6 perusahaan berhasil mengamankan status sebagai unicorn.
Dalam perjalanannya selama 10 tahun terakhir, Indonesia mencatatkan rata-rata peluncuran 134 perusahaan fintech baru setiap tahunnya, dengan puncak pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2021 melalui peluncuran 276 startup.
“Menariknya, sejumlah startup papan atas ini didirikan oleh para alumni universitas global terkemuka, seperti National University of Singapore (NUS), Harvard University, dan Harvard Business School,” ungkap Tracxn, dikutip Senin (26/6/2026).
Daftar Startup Fintech Teratas di Indonesia
Berdasarkan penilaian performa komprehensif menggunakan Tracxn Score, terdapat lima startup fintech terkemuka yang mendominasi pasar Indonesia saat ini. Posisi pertama ditempati oleh Xendit dengan skor 83/100, yang berada di peringkat 2 dari 446 kompetitor. Platform pembayaran digital dan transfer uang B2B yang didirikan di Jakarta pada tahun 2015 ini melayani commerce startup hingga perusahaan besar melalui berbagai kanal seperti virtual account, kartu kredit, e-wallet, hingga gerai ritel, serta telah mengamankan pendanaan Seri D senilai US$533 juta dari investor global seperti Accel dan Insight Partners.
Selanjutnya, Pintu berada di peringkat 7 dari 4.209 kompetitor dengan raihan skor 75/100. Beroperasi sejak tahun 2016 di Jakarta, platform berbasis aplikasi seluler ini memfasilitasi penyimpanan, pembelian, dan penjualan aset digital serta kripto lewat dompet digital terintegrasi, dengan dukungan pendanaan Seri B mencapai US$154 juta dari Pantera Capital dan Coinbase.
Menyusul di posisi berikutnya adalah Akulaku dengan skor 74/100 yang menempati peringkat 12 dari 474 kompetitor. Startup yang berdiri pada 2014 di Jakarta ini bertindak sebagai marketplace penyedia layanan pembiayaan di titik penjualan (point of sale financing) atau paylater untuk komoditas gawai, laptop, hingga peralatan rumah tangga, serta mengantongi akumulasi pendanaan Seri E sebesar US$430 juta dari Eight Roads Ventures dan Square Peg Ventures.
Sementara itu, AwanTunai sukses menduduki peringkat 1 dari 9 kompetitor dengan skor 71/100. Didirikan pada tahun 2017 di Jakarta, perusahaan ini fokus pada digitalisasi rantai pasok (supply chain) berbasis sistem ERP yang dilengkapi fitur pembiayaan inventaris bagi pemasok tradisional serta pelaku usaha mikro (micro-merchant), yang sejauh ini telah mengumpulkan pendanaan Seri B senilai US$55,8 juta dari AMTD Group dan Insignia Ventures Partners.
Menutup daftar lima besar, Investree yang juga meraih skor 71/100 berada di peringkat 2 dari 11 kompetitor. Berdiri sejak tahun 2015 di Jakarta, platform pinjaman P2P (peer-to-peer lending) online ini menghubungkan secara langsung pelaku usaha selaku peminjam dengan para pemberi dana (lender), dan kini berada di tahap Seri D dengan total kucuran dana mencapai US$254 juta dari investor institusi terkemuka seperti MUFG dan SBI Group.
Dinamika Pasar Modal dan Tren Konsolidasi Industri
Secara historis, perputaran modal terbesar di sektor fintech Indonesia terjadi pada tahun 2022 dengan raihan total pendanaan melampaui US$2,25 miliar. Perubahan iklim investasi (tech winter) kemudian mulai terasa di mana hingga periode Oktober 2025, perusahaan fintech lokal hanya membukukan pendanaan ekuitas sebesar US$35,4 juta di 12 putaran. Angka ini mencatatkan penurunan tajam sebesar 82,92% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sukses mengantongi US$207 juta dari 24 putaran.
Meski pendanaan melambat, beberapa putaran pendanaan penting belakangan ini tetap bergulir bagi sejumlah startup, seperti Honest, PasarPolis, Bang Jamin, OY!, dan Triv. Dalam peta kompetisi modal, Plug and Play Tech Center keluar sebagai investor teraktif berdasarkan jumlah perusahaan yang diinvestasikan, mendampingi jajaran investor papan atas lainnya seperti Quona, East Ventures, General Atlantic, dan Finch Capital.
Untuk aktivitas konsolidasi korporasi, tercatat ada 2 aksi akuisisi hingga Desember 2025 (berbanding 3 akuisisi di 2024), dengan beberapa transaksi strategis terbaru meliputi Skye Sab Indonesia, GajiGesa, IDEAL, AyoPajak, dan Lifepal. Sementara di jalur pasar modal, tercatat ada 1 aksi IPO sepanjang tahun 2025, melengkapi daftar emiten teknologi finansial nasional seperti Superbank, Digiasia, Aladin Bank, Krom, dan Hensel Davest Indonesia. (*AMBS)
