youngster.id - Startup penyedia infrastruktur open finance dan pembayaran asal Indonesia, Brick, dikabarkan berada dalam tahap akhir negosiasi untuk menjual saham mayoritasnya kepada sebuah perusahaan fintech asal Australia.
Menurut laporan DealStreetAsia, nilai transaksi akuisisi ini diperkirakan berkisar antara US$10 juta hingga US$20 juta (sekitar Rp160 miliar–Rp320 miliar).
Melalui akuisisi ini, perusahaan fintech Australia tersebut berupaya mempercepat penetrasi pasarnya di Indonesia secara instan. Pembeli dapat memanfaatkan infrastruktur pembayaran lokal, lisensi regulasi, teknologi terintegrasi, serta jejaring pasar yang telah dibangun oleh Brick, tanpa harus memulai operasional dari nol di salah satu pasar keuangan yang memiliki regulasi paling ketat di Asia Tenggara.
Negosiasi ini berlangsung setelah Brick melakukan penjajakan intensif selama beberapa bulan dengan sejumlah investor strategis global. Meskipun kesepakatan sudah memasuki fase akhir, persyaratan final atas akuisisi ini dilaporkan masih berpotensi mengalami penyesuaian.
Miliki Lisensi Resmi dari Bank Indonesia
Didirikan pada tahun 2020, Brick pada awalnya berfokus pada penyediaan API open finance yang memungkinkan perusahaan digital terhubung langsung dengan sistem keuangan. Seiring berjalannya waktu, Brick memperluas portofolio layanannya ke infrastruktur pembayaran komprehensif, mencakup disbursement, penarikan dana (collection), virtual account, QRIS, payment link, hingga solusi data finansial.
Langkah krusial Brick terjadi pada tahun 2023 ketika perusahaan mengakuisisi PT Eastern Transglobal Remittance. Aksi korporasi tersebut memberi Brick lisensi resmi Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) dari Bank Indonesia (BI), sehingga berhak menjalankan layanan transfer dana teregulasi di bawah entitas hukumnya sendiri.
Keberadaan lisensi BI serta rekam jejak teknologi yang solid menjadi daya tarik utama bagi investor Australia tersebut untuk memperdalam bisnisnya di sektor jasa keuangan nasional.
Mendorong Tren Konsolidasi Lintas Negara
Rencana transaksi ini mengemuka di tengah tantangan iklim pendanaan (funding drought) yang dialami sektor fintech Indonesia dan regional. Seiring dengan melambatnya aliran modal ventura, banyak perusahaan rintisan kini beralih mengeksplorasi kemitraan strategis hingga konsolidasi bisnis guna menjaga keberlanjutan dan daya saing pasar.
Akuisisi Brick oleh investor Australia ini menjadi cerminan dari meningkatnya tren kolaborasi fintech lintas negara (cross-border) demi menerobos rumitnya lanskap regulasi serta memperluas jangkauan operasional di pasar regional. (*AMBS)
















Discussion about this post