youngster.id - Telkom, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menjalin kolaborasi strategis melalui inisiatif Quantum-Safe Indonesia. Langkah ini diambil guna memperkuat ketahanan siber dan memperkokoh enkripsi data nasional menghadapi era Post-Quantum Cryptography (PQC).
Sinergi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Telkom dengan BSSN serta Telkom dengan Peruri dalam perhelatan Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta.
Kolaborasi ini bertujuan mengantisipasi risiko keamanan siber terhadap sistem enkripsi data yang saat ini digunakan, seiring makin pesatnya kemampuan komputasi kuantum global yang berpotensi membobol algoritma kriptografi konvensional di masa depan.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menegaskan bahwa kesiapan mengantisipasi teknologi kuantum merupakan investasi jangka panjang bagi keamanan ekosistem digital nasional.
“Perkembangan teknologi kuantum harus dipandang sebagai isu kesiapan jangka panjang bagi ekosistem digital. Melalui kolaborasi dengan BSSN, Peruri, dan dukungan orkestrasi Danantara Indonesia, Telkom ingin ikut membangun capability yang memungkinkan organisasi memahami kondisi aset kriptografinya, menilai tingkat kesiapan, dan mempersiapkan langkah mitigasi secara lebih terstruktur,” ujar Nanang, dikutip Jum’at (30/10/2026).
Pembagian Peran Strategis dan Kerangka Migrasi PQC
Inisiatif Quantum-Safe Indonesia mengintegrasikan kapabilitas regulator, BUMN, dan lembaga investasi guna membangun ketahanan teknologi nasional (sovereign technology). Dalam sinergi ini, BSSN berperan menyediakan kerangka kerja, metodologi, standar, dan tata kelola keamanan siber serta mitigasi migrasi PQC secara bertahap.
Telkom Indonesia mendukung dari sisi pengembangan teknologi, integrasi kapabilitas, dan penyiapan perangkat bantu (tools) untuk identifikasi aset kriptografi. Sementara itu, Peruri menyediakan kapabilitas digital trust, identitas digital, keamanan siber, dan teknologi terkait PQC.
Melengkapi ekosistem tersebut, Danantara Indonesia berperan mengorkestrasi ekosistem, mengidentifikasi kebutuhan sektoral, serta mendorong adopsi solusi dan proyek percontohan (pilot project) di lingkungan BUMN.
Kepala BSSN, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Nugroho Sulistyo Budi, menekankan pentingnya respons cepat terhadap potensi ancaman serangan kuantum terhadap data nasional.
“Ancaman komputasi kuantum terhadap kriptografi bukan lagi sekadar wacana, dan data yang kita lindungi hari ini dapat menjadi sasaran di kemudian hari. Karena itu, BSSN menyiapkan kerangka dan standar migrasi kriptografi pasca-kuantum secara bertahap,” tegas Nugroho.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama Peruri, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Teguh Arief Indratmoko, menyampaikan bahwa integrasi kapabilitas ini menjadi landasan kuat untuk memperkokoh kepercayaan pada layanan digital (digital trust) nasional. Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia, Ricardo Irwan Rei, juga menambahkan pentingnya sinergi lintas sektor agar solusi yang dikembangkan dapat menjawab kebutuhan industri secara konkret.
Melalui kerja sama strategis ini, para pihak akan mendalami mekanisme teknis dan perikatan definitif guna mewujudkan sistem keamanan siber yang adaptif, terukur, dan mampu menjaga kedaulatan digital Indonesia di era pasca-kuantum. (*AMBS)
