youngster.id - Danantara Indonesia memulai langkah besar transformasi digital di seluruh ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui Rapat Koordinasi Transformasi Digital. Forum strategis ini dirancang untuk menyelaraskan arah kebijakan dan rencana kerja digital agar berjalan dalam satu orkestrasi terpadu guna memperkuat kedaulatan digital nasional.
Penerapan transformasi digital ini menjadi prioritas utama Danantara untuk mendukung visi Asta Cita Presiden RI. Inisiatif ini tidak hanya menyasar modernisasi teknologi, tetapi juga mendorong industrialisasi produk digital hasil karya dalam negeri di lingkungan BUMN.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menjelaskan bahwa transformasi digital yang terkoordinasi akan menghilangkan duplikasi pada belanja teknologi dan infrastruktur digital. Melalui konsolidasi lisensi dan pemanfaatan platform bersama, BUMN diproyeksikan mampu meraih efisiensi biaya operasional sebesar 25% hingga 40%.
“Danantara memiliki peran sentral menyelaraskan arah, platform, talenta, dan tata kelola. Tujuannya agar inisiatif digital di setiap BUMN tidak lagi berjalan terpisah-pisah (silodial), melainkan menghasilkan nilai tambah kolektif bagi negara,” tegas Sigit di hadapan perwakilan 60 holding utama BUMN, dikutip Jum’at (8/5/2026).
Fokus transformasi digital Danantara juga mencakup adaptasi cepat terhadap teknologi masa depan (frontier technologies). BUMN didorong untuk mulai mengadopsi Artificial Intelligence (AI), Advanced Analytics, hingga kesiapan keamanan siber pasca-kuantum (Post-Quantum Readiness).
Lebih jauh, Danantara mendorong pengembangan teknologi strategis berbasis kedaulatan, seperti Sovereign AI dan Sovereign Cloud. Langkah ini diambil untuk memastikan data dan infrastruktur digital kritikal nasional tetap berada dalam kendali penuh Indonesia, sekaligus meningkatkan produktivitas serta kualitas pengambilan keputusan di level eksekutif.
Transformasi ini akan dilaksanakan secara bertahap dan terukur. Dalam enam bulan pertama, Danantara akan fokus pada pengukuran kesiapan digital (digital readiness) seluruh BUMN serta membangun fondasi kolaborasi.
Untuk memastikan rencana ini berjalan sesuai target, dibentuk Danantara Digital Transformation Task Force. Satuan tugas ini berfungsi sebagai mekanisme tata kelola bersama yang memantau integrasi data, sistem, hingga auditabilitas di seluruh BUMN secara transparan dan akuntabel. Dengan model “Triple Helix”, Danantara juga merangkul akademisi dan pemerintah untuk memastikan kebutuhan 600.000 talenta digital per tahun dapat terpenuhi demi menyokong transformasi besar ini. (*AMBS)

















Discussion about this post