youngster.id - Perusahaan penyedia infrastruktur kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan intelijen keamanan global, Gorilla Technology Group Inc., mengumumkan penyelesaian dua pendanaan obligasi dengan total perolehan dana kotor sebesar US$232 juta (sekitar Rp3,7 triliun). Dana segar ini dialokasikan untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur AI di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan, dengan fokus utama pada proyek NeutraDC Batam, Indonesia.
Langkah strategis ini menjadi fondasi bagi Gorilla Technology dalam mengeksekusi kontrak komersial lima tahun bernilai potensi pendapatan hingga US$2,5 miliar (sekitar Rp40 triliun) di Indonesia. Proyek pusat data AI di Batam ini ditargetkan mulai menyumbang pendapatan seiring dengan dimulainya operasional tahap awal pada akhir tahun 2026.
Proyek AI NeutraDC Batam On-Track: Fase Pertama Rampung Akhir 2026
Penyuntikan modal ekuitas korporat ini memastikan komitmen penyiapan kapasitas pusat data, pembayaran di muka, hingga pengadaan perangkat keras untuk proyek NeutraDC Batam berjalan sesuai jadwal.
Penyebaran (deployment) tahap pertama infrastruktur komputasi AI di Batam akan dibagi menjadi dua gelombang: Gelombang Pertama, ditargetkan beroperasi pada September 2026, Gelombang Kedua, ditargetkan beroperasi pada Desember 2026.
Sementara itu, sisa kapasitas komputasi yang telah terikat kontrak dijadwalkan selesai disalurkan pada paruh pertama tahun 2027. Pada skala penuh (full build-out), kampus pusat data berdaya 200MW ini dirancang untuk menampung sekitar 100.000 hingga 110.000 unit GPU generasi terbaru, dengan potensi pendapatan jangka panjang mencapai US$16 miliar hingga US$18 miliar.
Chairman dan CEO Gorilla Technology, Jay Chandan, menegaskan bahwa pendanaan obligasi ini bukan sekadar penghimpunan modal tanpa tujuan, melainkan bentuk eksekusi atas kontrak konsumen yang sudah ditandatangani.
“Fokus pemegang saham seharusnya bukan sekadar pada instrumen pendanaannya, melainkan pada potensi pendapatan ratusan juta dolar yang dimungkinkan oleh pendanaan ini. Di Indonesia, modal ini menjadi jembatan untuk mengeksekusi kontrak bernilai US$2,5 miliar selama lima tahun ke depan,” ujar Jay, dikutip Rabu (22/7/2026).
CFO Gorilla Technology, Bruce Bower, menambahkan bahwa strategi keuangan perusahaan menggabungkan ekuitas korporat, utang tingkat proyek, serta pembiayaan berbasis aset guna meminimalkan kebutuhan modal korporat di masa depan seiring dengan mulai beroperasinya proyek secara komersial.
Selain di Indonesia, sebagian dari total pendanaan US$232 juta tersebut juga digunakan untuk mendukung kontribusi ekuitas pada proyek Yotta 1 dan Yotta 2 di New Delhi, India, yang melibatkan pemasangan puluhan ribu GPU AI, serta ekspansi platform regional di Thailand. (*AMBS)
















Discussion about this post