youngster.id - Pusat data SMX01 yang berlokasi di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta mengantongi status Ready for Service (RFS). Fasilitas ini menambah kapasitas komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI-ready) di Indonesia di tengah melesatnya permintaan infrastruktur pusat data di kawasan Asia Tenggara. Dikembangkan melalui kemitraan strategis antara SM+ Data Centers, Korea Investment Real Asset Management (KIRA), dan LG Sinar Mas (LGSM), pusat data ini telah memulai operasional penuh untuk melayani beban kerja para pelanggan.
SMX01 membawa standar rekayasa data center global serta modal jangka panjang asal Korea Selatan ke dalam ekosistem digital terbesar di Asia Tenggara. Fasilitas ini menawarkan kapasitas beban IT sebesar 21 megawatt (MW) yang dapat diperluas secara bertahap (modular) sesuai pertumbuhan permintaan pasar. Fleksibilitas ini menjadi krusial seiring melonjaknya kebutuhan komputasi berintensitas daya tinggi untuk aplikasi kecerdasan buatan, layanan awan (cloud), dan ekosistem digital nasional.
President Director dan Group CEO SM+ Holdings, Herson Suindah, menjelaskan bahwa dinamika kebutuhan komputasi saat ini menuntut fleksibilitas infrastruktur yang tinggi agar mampu berkembang seirama dengan kebutuhan pasar.
“Kebutuhan komputasi semakin bervariasi. Sebagian masih menjalankan sistem konvensional, sementara yang lain mulai membutuhkan kapasitas berkinerja signifikan lebih tinggi untuk AI. Itulah mengapa kami membangun SMX01 agar dapat berkembang berdampingan dengan pasar dan kebutuhan para pelanggan kami,” ujar Herson, dikutip Senin (2/11/2026).
Tiga mitra strategis berbagi peran saling melengkapi dalam pengoperasian fasilitas ini. SM+ Data Centers bertindak sebagai pemilik dan pengelola fasilitas, KIRA berperan sebagai mitra investasi jangka panjang, sementara LGSM—perusahaan patungan LG CNS dan SM+—memimpin proses desain, konstruksi, hingga operasional teknis. CEO LG Sinar Mas, Donghyup Han, menegaskan pentingnya perencanaan menyeluruh untuk menampung beban kerja komputasi AI modern.
“Kesiapan data center untuk AI tidak dapat diukur dari jumlah rak semata. Kapasitas daya, sistem pendingin, dan beban struktural harus direncanakan bersama sejak awal. Ini adalah pendekatan yang kami bawa dari pengalaman membangun dan mengoperasikan data center di Korea dan secara global,” kata Donghyup.
Dari sisi keandalan operasional, sistem daya dan pendingin SMX01 dirancang memenuhi standar hingga Tier IV dengan redundansi berlapis guna menjamin kelangsungan layanan tanpa henti. Sebagai data center carrier-neutral, SMX01 menyediakan akses ke berbagai penyedia layanan internet melalui empat titik masuk jaringan (network entry points) yang terhubung ke jaringan 30 data center Edge milik SM+ di 25 kota di Indonesia.
Untuk menekan konsumsi energi komputasi AI yang tinggi, SMX01 menjadi salah satu fasilitas kolokasi pertama di kawasan yang mampu mengoperasikan seluruh ruang data (data hall) menggunakan sistem pendingin cair (liquid-cooling) berdampingan dengan pendingin udara konvensional. Pendekatan ini secara signifikan menekan nilai Power Usage Effectiveness (PUE). Keberlanjutan lingkungan juga didukung oleh pemanfaatan kombinasi air daur ulang dan pemanenan air hujan melalui sistem pendingin chilled-water berbasis sirkulasi tertutup (closed-loop).
Peluncuran SMX01 bertepatan dengan melesatnya nilai transaksi bruto (GMV) ekonomi digital Asia Tenggara yang diproyeksikan melampaui US300 miliar, dengan pertumbuhan kapasitas data center regional mencapai 180%. Indonesia sendiri tetap menjadi ekonomi digital terbesar di kawasan ini, dengan nilai transaksi bruto (GMV) mendekati US$100 miliar pada tahun 2025. Adopsi AI juga semakin meningkat di negara ini, di mana pendapatan aplikasi AI tumbuh 127% antara semester pertama (H1) 2024 dan semester pertama (H1) 2025, yang merupakan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
CEO KIRA, Yong Sik Kim, menyambut baik peresmian fasilitas ini sebagai langkah strategis dalam mengalirkan modal jangka panjang ke sektor infrastruktur digital domestik.
“SMX01 yang mencapai Ready for Service merupakan pencapaian investasi penting karena mengubah modal jangka panjang menjadi infrastruktur digital operasional yang dapat mendukung fase pertumbuhan digital Indonesia berikutnya. Kami melihat fundamental yang kuat di pasar ini dan senang dapat terus bekerja sama dengan SM+ Data Centers dan LG Sinar Mas,” ungkap Yong Sik Kim.
Para mitra melihat SMX01 sebagai titik awal pendorong ekosistem digital di mana penyedia cloud, operator jaringan, korporasi, hingga pengembang AI dapat saling terhubung. Herson Suindah menambahkan bahwa integrasi infrastruktur ini disiapkan untuk melengkapi hub data center regional.
“Seiring AI dan ekspansi cloud mengubah cara kawasan ini melakukan komputasi, Indonesia berada pada posisi untuk melengkapi hub yang sudah ada di kawasan. Infrastruktur digital untuk kawasan ini akan dibangun oleh banyak pihak, dan kami berniat untuk terus membangunkannya bersama para mitra lintas industri dan lintas negara,” tutup Herson Suindah. (*AMBS)
