Alat Pemadam Api Ringan (APAR) Dengan Getaran Suara

Anjas Muhammad Bangun dan APAR buatanya. (Foto: ITS)

youngster.id - Alat pemadam api ringan (APAR), yang kebanyakan digunakan selama ini memang masih belum 100% aman bagi lingkungan maupun bagi penggunanya sendiri. Hal ini menggugah seorang mahasiwa Departemen Elektro ITS merancang APAR dengan getaran suara.

Bermodalkan rasa keingintahuan yang tinggi dan kegemaran membaca jurnal-jurnal internasional mahasiswa bernama Anjas Muhammad Bangun, mendapati bahwa ada cara untuk memadamkan api tanpa bahan-bahan kimia yang berbahaya. Salah satunya dengan menggunakan gelombang suara dengan pemadaman api. Alhasil, pria asal Cilegon tersebut mampu menyederhanakannya dalam sistem tertanam pada sebuah alat.

Melalui tugas akhir yang diberi judul Pemadam Api Berbasis Efek Vibrasi Suara Menggunakan Mikrokontroler STM32, Anjas menghadirkan inovasi ini.

“Karena alat ini tidak menggunakan air, karbon dioksida dan foam, maka tingkat keamanan dan mobilitas yang diciptakannya cukup tinggi jika dibandingkan dengan APAR konvensional yang sudah ada,” tutur wisudawan cum laude peraih IPK 3,53 yang dilansir Humas ITS, Sabtu  (16/3/2019).

Anjas menerangkan, alat tersebut kemudian terdiri dari dua subsistem, yaitu sensor dan main controller. Dalam subsistem sensor akan bekerja sebagai pendeteksi temperatur dengan pancaran sinar infrared. Sedangkan subsistem main controller-nya lah yang akan mengolah hasil sensor tersebut, untuk akhirnya dijadikan gelombang suara yang mampu memadamkan api.

Baca juga :   Dukung UKM, Sampoerna Luncurkan Aplikasi Ayo SRC

Dalam karya TA di bawah bimbingan dosen Dr Muhammad Rivai ST MT ini, Anjas menggunakan sifat-sifat fisika dari gelombang suara untuk menyelesaikan masalah kebakaran. Dirinya juga melakukan pendekatan teknologi mutakhir seperti mikrokontroler STM32, agar tercipta alat yang lebih portable dan punya mobilitas yang tinggi.

Namun karena hal yang dilakukannya ini termasuk baru di Indonesia, maka ada beberapa kesulitan yang Anjas temui. Mulai dari soal peralatan hingga masalah teknis dalam percobaan alatnya. Contohnya, seperti usahanya dalam membangkitkan gelombang suara dari frekuensi rendah agar sampai ke titik yang mampu mamadamkan api.

Meskipun demikian, Anjas tak langsung puas diri dan siap melakukan tantangan lain untuk mengembangkan alat ini. “Karena ini masih berfungsi untuk memadamkan api skala kecil, ke depannya saya harap bisa untuk peristiwa kebakaran yang lebih besar,” pungkas pria 22 tahun ini.

FAHRUL ANWAR