youngster.id - Transformasi yang dijalankan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) mulai menunjukkan hasil. Pada semester I 2026, perusahaan mencatat pertumbuhan signifikan dari pasar di luar ekosistem TelkomGroup, dengan pendapatan pelanggan eksternal meningkat 31% secara tahunan menjadi Rp939 miliar.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu pendorong kinerja keuangan InfraNexia yang membukukan pendapatan sebesar Rp7,7 triliun pada enam bulan pertama 2026.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan pertumbuhan pendapatan eksternal menjadi indikasi bahwa transformasi yang dijalankan mulai meningkatkan daya saing perusahaan.
“Pertumbuhan pendapatan eksternal dan kinerja positif InfraNexia menunjukkan bahwa proses bisnis yang kami jalankan mulai memperkuat daya saing InfraNexia. Selain memperbesar skala bisnis, fokus kami juga terus memastikan aset dan kapabilitas yang dimiliki dapat dikelola secara lebih produktif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan industri,” ungkapnya dikutip Kamis (6/8/2026).
Menurut Lukman, meski kontribusi terbesar masih berasal dari TelkomGroup, pertumbuhan bisnis eksternal menunjukkan semakin besarnya kepercayaan operator telekomunikasi, penyedia layanan internet (ISP), perusahaan digital, hingga pelanggan korporasi terhadap layanan infrastruktur yang dikelola perusahaan.
Transformasi bisnis InfraNexia semakin diperkuat sejak pengalihan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang efektif berlaku pada 1 Januari 2026. Langkah tersebut memperbesar skala operasional perusahaan sekaligus membuka peluang monetisasi aset dan kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pelaku industri.
Dari sisi bisnis, segmen Wholesale Network yang mencakup Metronexia, Wavenexia, dan IP Nexia mencatat pertumbuhan pendapatan 12,7% secara tahunan. Kinerja tersebut didukung meningkatnya permintaan terhadap layanan jaringan inti (core network) dan kebutuhan kapasitas data yang terus bertambah seiring pesatnya aktivitas digital.
Sementara itu, segmen FTTx & Infrastructure Sharing juga terus berkembang dengan mendukung kebutuhan konektivitas sekaligus mendorong pemanfaatan infrastruktur bersama (infrastructure sharing) yang lebih efisien di industri telekomunikasi.
Dari sisi profitabilitas, InfraNexia membukukan margin EBITDA sebesar 54,5% pada semester I 2026. Capaian tersebut didukung oleh efisiensi operasional, optimalisasi biaya, digitalisasi proses bisnis, serta pengelolaan aset yang semakin terintegrasi.
Seiring meningkatnya skala bisnis, jumlah karyawan InfraNexia juga bertambah dari 1.128 menjadi 1.338 orang pada semester pertama tahun ini. Penambahan sumber daya dilakukan untuk mendukung kompleksitas operasional, pengembangan layanan, serta percepatan agenda transformasi perusahaan.
Lukman menilai semester pertama 2026 menjadi periode penting bagi InfraNexia dalam memperkuat fondasi sebagai perusahaan infrastruktur digital nasional. Ke depan, perusahaan akan terus meningkatkan kualitas layanan melalui modernisasi jaringan serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pelaku industri.
“Melalui sinergi bersama Danantara Indonesia, InfraNexia sebagai bagian dari TelkomGroup optimistis dapat terus memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem digital nasional. Dengan disiplin operasional dan eksekusi transformasi yang konsisten, kami berkomitmen menghadirkan infrastruktur digital yang andal, efisien, dan berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutupnya.
‘
STEVY WIDIA

















Discussion about this post