youngster.id - Visa meluncurkan hasil survei terbaru mengenai tingkat kesadaran dan preferensi konsumen terhadap stablecoin di kawasan Asia Pasifik. Riset tersebut mengungkapkan adanya lonjakan minat masyarakat untuk menggunakan stablecoin dalam transaksi sehari-hari, liburan, hingga pengiriman uang lintas negara (cross-border).
Meski demikian, pemahaman masyarakat yang masih terbatas serta kekhawatiran terkait keamanan dan faktor kepercayaan (trust) masih menjadi tantangan utama dalam adopsi stablecoin secara luas.
Peralihan Fungsi: Dari Alat Spekulasi ke Transaksi Harian
Stablecoin kini mulai keluar dari akar ekosistem aset kripto murni. Konsumen tidak lagi hanya memandang stablecoin sebagai instrumen perdagangan kripto, melainkan sebagai alat pembayaran potensial untuk belanja daring, perjalanan internasional, dan transfer dana luar negeri.
Survei Visa mencatat sebanyak 46% konsumen di Asia Pasifik menyatakan berminat menggunakan stablecoin dalam lima tahun ke depan. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan 16% konsumen yang pernah menggunakannya dalam 12 bulan terakhir.
Selain itu, sebanyak 49% responden percaya bahwa stablecoin akan menjadi metode pembayaran yang umum untuk transaksi lintas negara dalam lima tahun mendatang. Potensi ini dinilai sangat relevan untuk kebutuhan remitansi, transfer internasional, dan pembayaran antarnegara lainnya.
Tantangan Pemahaman dan Isu Kepercayaan
Meskipun tingkat kesadaran masyarakat di Asia Pasifik terhadap stablecoin sudah mencapai 66%, tingkat pemahaman mendalam masih terbilang sangat rendah. Hanya 6% responden yang benar-benar memahami cara kerja stablecoin secara akurat.
Sejumlah kesalahpahaman masih membayangi persepsi publik: 49% konsumen yang tahu stablecoin masih menganggap aset digital ini hanya bisa digunakan untuk jual-beli aset kripto lain. Sementara itu, 41% konsumen percaya secara keliru bahwa nilai stablecoin akan selalu naik.
Faktor kepercayaan dan keamanan juga menjadi pemicu utama keraguan masyarakat. Di antara konsumen yang mengetahui stablecoin namun belum pernah menggunakannya, 38% menyoroti risiko penipuan (scam) atau kejahatan siber, sementara 36% mengaku ragu karena kurangnya pemahaman.
Hasil survei memperlihatkan bahwa masyarakat lebih mempercayai lembaga terregulasi untuk mengelola aset ini. Entitas yang terhubung dengan pemerintah atau bank sentral menjadi penyedia yang paling dipercaya (27%), disusul oleh bank dan lembaga keuangan terregulasi (26%).
Kondisi Pasar Asia Pasifik dan Langkah Strategis Visa
Berdasarkan data tingkat negara, kesadaran tertinggi terhadap stablecoin tercatat di Hong Kong (84%), India (80%), dan Thailand (77%). Sementara itu, potensi adopsi terbesar dalam lima tahun ke depan ditunjukkan oleh konsumen di Vietnam (67%) dan India (67%).
Menanggapi dinamika tersebut, Head of Digital Currencies Asia Pacific Visa, Nischint Sanghavi, menjelaskan bahwa fokus industri saat ini adalah menjembatani minat masyarakat menjadi pengalaman bertransaksi yang aman dan relevan.
“Kami melihat perubahan bermakna pada cara pandang konsumen di Asia Pasifik terhadap stablecoin. Tantangannya saat ini adalah mengubah minat tersebut menjadi pengalaman pembayaran yang terpercaya, familiar, dan dapat diandalkan dalam skala besar,” ujar Nischint, Senin (5/10/2026).
Guna mendukung integrasi ini, Visa telah bekerja sama dengan perbankan, lembaga keuangan terregulasi, dan mitra pembayaran global. Melalui Visa Stablecoin Platform, Visa menyediakan infrastruktur yang membantu mitra keuangan dalam menerbitkan (mint), memindahkan (move), dan mengelola (manage) stablecoin secara aman dan sesuai regulasi. (*AMBS)
