youngster.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self-Regulatory Organizations (SRO)—yang terdiri dari Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)—serta didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tengah mengakselerasi reformasi menyeluruh di pasar modal. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperdalam transparansi, mengoptimalkan akses informasi, dan memperkuat kepercayaan investor jangka panjang.
Sebagai bagian dari keterbukaan informasi, BEI terus memperluas akses data di situs resminya. Kini, publik dapat memantau data kepemilikan saham perusahaan tercatat, informasi free float, hingga pengungkapan Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi (High Shareholding Concentration).
Sejak Maret lalu, BEI rutin memublikasikan informasi kepemilikan bagi pemegang saham dengan porsi di atas 1%. Selain itu, emiten wajib melaporkan pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dengan kepemilikan di atas 10% serta data free float terbaru dalam laporan bulanan mereka.
Untuk memfasilitasi komunikasi, SRO juga menyediakan layanan IDX Hotdesk via email di hotdesk@idx.co.id sebagai wadah bagi investor untuk mendapatkan informasi dan memberikan masukan.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan komitmen bersama ini dalam memperkuat tata kelola pasar.
“Reformasi yang diperkenalkan oleh regulator dan SRO mencerminkan komitmen bersama untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar. Didukung oleh fundamental ekonomi dan korporasi yang tangguh, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menawarkan peluang investasi jangka panjang yang menarik, baik bagi investor domestik maupun global,” ujar Jeffrey, Selasa (30/6/2026).
Pasar Modal Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global
Meski dibayangi ketidakpastian global, aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia terpantau tetap kokoh. Per 24 Juni, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang ditutup pada level 5.883,88. Namun, nilai rata-rata transaksi harian (RNTH) melonjak 36,3% (ytd) mencapai US$1,44 miliar atau sekitar Rp24,6 triliun. Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian tumbuh 49,4% menjadi 2,67 juta transaksi.
Partisipasi investor domestik pun terus meroket. Per 23 Juni, jumlah akun Single Investor Identification (SID) telah menembus 28,70 juta, dengan investor ritel menyumbang 52,5% dari total nilai transaksi harian. Di sisi lain, net subscription pada reksa dana saham per 20 April mencatatkan angka Rp21,98 triliun (US$1,35 miliar), melonjak signifikan dibanding periode yang sama tahun 2025 yang hanya sebesar Rp6,27 triliun.
Salah satu pilar utama dari agenda reformasi ini adalah implementasi bertahap dari revisi Peraturan Pencatatan Nomor I-A terkait ketentuan saham publik.
Berdasarkan data per 31 Maret, rata-rata rasio free float di pasar modal Indonesia berada di angka 23,09%. Dari total 912 perusahaan yang tercatat di bursa, sebanyak 61,8% emiten di antaranya dilaporkan telah mematuhi ketentuan minimum tersebut. Sementara itu, bagi 323 perusahaan tercatat yang belum memenuhi kuota, otoritas memberikan masa transisi kelonggaran yang akan berlangsung hingga tahun 2029 mendatang.
BEI menegaskan akan terus melakukan edukasi dan pendekatan aktif kepada para emiten yang masih dalam masa transisi tersebut. (*AMBS)
