youngster.id - Mengurus keluarga, bekerja, menjalankan usaha, hingga menikmati waktu bersama orang-orang terdekat. Bagi banyak perempuan Indonesia, berbagai aktivitas tersebut bisa berlangsung dalam satu hari. Perubahan ritme kehidupan ini turut mengubah kebutuhan terhadap pakaian sehari-hari, termasuk hijab yang kini tidak hanya dituntut menunjang penampilan, tetapi juga mampu mengikuti mobilitas pemakainya.
Bagi perempuan berhijab, memilih hijab bukan lagi semata soal warna atau model. Kenyamanan dan kemampuan hijab untuk digunakan dalam berbagai aktivitas juga menjadi pertimbangan. Hijab yang dikenakan untuk bekerja, misalnya, diharapkan tetap nyaman ketika digunakan untuk beraktivitas di luar ruangan atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Kebutuhan akan hijab yang lebih fleksibel tersebut dapat dilihat dari pengalaman Sarah (27). Sebagai ibu tiga anak, kesehariannya diisi dengan mengurus kebutuhan anak dan suami. Di saat yang sama, Sarah juga menjalankan usaha online yang menjual produk peralatan rumah tangga. Aktivitasnya tidak berhenti di rumah karena ia juga kerap mendampingi keluarganya melakukan berbagai kegiatan, termasuk rekreasi dengan bersepeda.
“Buat saya, hijab sekarang bukan hanya soal penampilan, tetapi juga kenyamanan saat menjalani aktivitas sehari-hari. Sebagai ibu tiga anak yang juga menjalankan usaha online, saya membutuhkan hijab yang bisa mengikuti mobilitas saya, baik ketika mengurus keluarga, bekerja, maupun saat menikmati waktu bersama suami dan anak-anak. Hijab yang nyaman membuat saya bisa tetap aktif tanpa merasa terbebani,” ujar Sarah.
Pengalaman serupa juga dirasakan Ayudia Bing Slamet yang menjalani berbagai peran sebagai ibu, entrepreneur, dan content creator. Aktivitasnya yang berpindah dari urusan keluarga, meeting, hingga syuting membuat kenyamanan menjadi salah satu kebutuhan dalam memilih hijab.
“Dalam satu hari aku bisa menjalani banyak peran, mulai dari ngurusin rumah tangga dan keluarga, meeting, sampai syuting. Buatku, hijab yang nyaman bukan lagi sekadar pelengkap penampilan, tapi sesuatu yang benar-benar mendukung aktivitas,” ujarnya.
Cerita Sarah dan Ayudia menunjukkan bahwa gaya hidup aktif perempuan memiliki bentuk yang beragam. Aktif tidak selalu berarti bekerja di kantor atau menjalani aktivitas profesional di luar rumah. Mengurus keluarga, menjalankan usaha, membuat konten, hingga menemani anak dan pasangan melakukan kegiatan rekreasi juga membutuhkan mobilitas.
Dalam kondisi tersebut, pakaian tidak hanya dituntut untuk menunjang penampilan, tetapi juga memberikan kenyamanan dan keleluasaan bergerak. Hal ini turut mendorong perubahan dalam cara perempuan memandang modest fashion. Hijab tidak lagi hanya ditempatkan sebagai pelengkap busana untuk kesempatan tertentu, tetapi menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.
Dari modest wear ke kategori hijab
Kebutuhan terhadap pakaian yang dapat mengikuti aktivitas perempuan sebenarnya bukan hal baru bagi UNIQLO. Brand asal Jepang ini telah memiliki pengalaman mengembangkan modest wear bersama desainer Hana Tajima sejak 2015.
Kolaborasi UNIQLO dan Hana Tajima tersebut menghadirkan koleksi modest wear yang mencakup hijab dan sejumlah pakaian dengan siluet lebih longgar. Koleksi tersebut pertama kali diluncurkan di Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Thailand, sebelum kemudian diperluas ke pasar lainnya.
Di Indonesia, koleksi tersebut diperkenalkan pada Juli 2015. Selain pakaian modest, koleksi Hana Tajima untuk UNIQLO saat itu juga mencakup hijab, inner hijab, serta produk berbasis AIRism yang ditujukan untuk memberikan kenyamanan saat mengenakan hijab.
Perjalanan tersebut terus berlanjut. Pada 2024, misalnya, UNIQLO kembali menghadirkan koleksi modest wear khusus Indonesia dan Malaysia. Dalam pengembangannya, UNIQLO menyebut lebih dari 35 persen ulasan pelanggan yang mereka terima menyoroti kebutuhan terhadap pakaian yang hijab-friendly, termasuk desain yang lebih panjang, siluet rileks, bahan nyaman, dan versatile.
Lebih dari satu dekade setelah kolaborasi pertamanya dengan Hana Tajima, UNIQLO kemudian menghadirkan kategori hijab secara khusus di Indonesia. Koleksi UNIQLO Hijab mulai tersedia pada 10 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya menghadirkan LifeWear yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Marketing Manager UNIQLO Indonesia, Lisqia Lalantika, mengatakan keputusan menghadirkan kategori hijab tidak terlepas dari berbagai masukan pelanggan, khususnya perempuan Muslim di Indonesia dan Malaysia.
“Kami menyadari bahwa kebutuhan setiap perempuan terhadap hijab tidak pernah sama, tergantung pada aktivitas, gaya hidup, dan preferensi masing-masing. Kesadaran ini turut dibentuk oleh berbagai masukan yang kami terima langsung dari pelanggan sepanjang proses pengembangan koleksi ini,” ucap Lisqia pada peluncuran perdana koleksi hijab di Indonesia.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap hijab tidak dilihat sebagai sesuatu yang seragam. Perempuan dengan aktivitas di luar ruangan mungkin membutuhkan karakter material yang berbeda dengan mereka yang lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan atau membutuhkan hijab untuk kesempatan tertentu.
Hijab yang mengikuti aktivitas
Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan UNIQLO ke dalam tiga pilihan material pada koleksi hijabnya, yakni Hijab AIRism Proteksi Sinar UV, Hijab Georgette, dan Hijab Satin. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda untuk menyesuaikan kebutuhan dan gaya pemakainya.
Hijab AIRism Proteksi Sinar UV menggunakan material bertekstur halus yang dirancang untuk kenyamanan praktis sehari-hari. Sementara itu, Hijab Georgette menawarkan material ringan dengan jatuh bahan yang lembut, sedangkan Hijab Satin dirancang ringan dan mudah dibentuk untuk tampilan yang lebih elegan.
Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa satu jenis hijab belum tentu dapat memenuhi kebutuhan semua perempuan. Ada yang membutuhkan hijab untuk menemani aktivitas sehari-hari, ada yang mengutamakan material ringan, sementara lainnya mencari pilihan yang dapat mendukung penampilan untuk kesempatan tertentu.
Di sinilah konsep LifeWear yang diusung UNIQLO menemukan relevansinya. Pakaian tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang terlihat, tetapi juga bagaimana pakaian tersebut dapat mendukung kehidupan sehari-hari pemakainya.
Bagi Sarah, misalnya, kenyamanan menjadi penting karena aktivitasnya tidak hanya berkutat pada satu peran. Begitu pula dengan Ayudia yang harus berpindah dari urusan keluarga ke pekerjaan dan aktivitas kreatif dalam satu hari.
Hijab yang nyaman pada akhirnya memberikan keleluasaan bagi perempuan untuk menjalani berbagai aktivitas tanpa harus terus memikirkan pakaian yang dikenakan. Dari mengurus keluarga hingga menjalankan usaha, dari bekerja hingga menikmati waktu bersama orang-orang terdekat, kebutuhan terhadap hijab ikut bergerak mengikuti kehidupan pemakainya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa modest fashion tidak hanya berbicara mengenai tren warna, motif, atau gaya. Ada kebutuhan yang lebih mendasar, yakni bagaimana pakaian dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tanpa menghambat aktivitas.
Hijab pun berada di tengah perubahan tersebut. Dari sekadar pelengkap penampilan, hijab berkembang menjadi bagian dari gaya personal sekaligus kebutuhan fungsional perempuan dalam menjalani keseharian.
Pada akhirnya, hijab bukan hanya tentang apa yang dikenakan, tetapi tentang bagaimana perempuan dapat tetap nyaman menjalani berbagai peran dan aktivitasnya. Ketika kehidupan semakin dinamis, pakaian pun dituntut untuk ikut bergerak mengikutinya.
STEVY WIDIA
