youngster.id - Di tengah tantangan penguatan ketahanan pangan nasional, peran generasi muda dalam mengoptimalkan hilirisasi sektor pertanian kian krusial. PT Pupuk Indonesia (Persero) terus mendorong terciptanya ekosistem pertanian yang kuat dan inovatif dengan melibatkan wirausaha muda untuk memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi para petani di berbagai daerah.
Sekretaris Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menegaskan bahwa keterlibatan anak muda menjadi kunci penting dalam menjadikan sektor pertanian sebagai pilihan hidup yang menjanjikan.
“Ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan dan keterjangkauan pupuk, tetapi juga penciptaan ekosistem pertanian yang kuat dan inovatif untuk keberlanjutan sektor pertanian. Kami melihat keterlibatan generasi muda dalam mengoptimalkan hilirisasi usaha tani dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih optimal bagi para petani,” ujar Yehezkiel Adiperwira.
Semangat inovasi dan hilirisasi tersebut dibuktikan secara nyata oleh dua wirausaha muda inspiratif, Ella Rizki dan Asri Saraswati, yang berhasil mengubah komoditas lokal menjadi produk bernilai tinggi sekaligus memberdayakan ratusan petani di daerahnya.
Langkah Inovatif Ella Rizki: Bawa Gula Semut dan VCO Tembus Pasar Ekspor
Semangat pemberdayaan yang digagas Ella Rizki berawal dari kepeduliannya terhadap potensi kelapa di lingkungan sekitarnya. Berasal dari keluarga petani nira kelapa di Desa Trenten, Kabupaten Magelang, Ella melihat bahwa komoditas kelapa memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi jika diolah secara mandiri alih-alih sekadar dijual mentah.
Pada tahun 2015, ia mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari. Melalui kelompok ini, Ella mendorong pengolahan kelapa menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi, seperti gula semut dan virgin coconut oil (VCO), yang kini sukses menembus pasar internasional.
Tidak hanya fokus pada bisnis, Ella turut menggandeng dan membina lebih dari 500 petani di berbagai daerah untuk tumbuh bersama.
“Kelapa yang dulu cuma dijual mentah, sekarang bisa jadi produk yang menembus pasar ekspor. Inilah salah satu contoh hilirisasi usaha tani yang bukan sekadar mengolah, tapi sekaligus mampu mengubah nasib ekonomi petani lokal. Semoga semakin banyak desa yang berani mengambil langkah serupa,” ungkap Ella.
Agradaya oleh Asri Saraswati: Angkat Rempah Menoreh Lewat Teknologi dan Transfer Pengetahuan
Langkah transformatif serupa juga dihadirkan oleh Asri Saraswati Iskandar bersama suaminya, Andhika Mahardika, melalui inisiatif Agradaya. Berpindah dari perkotaan ke pedesaan di Yogyakarta, Asri memfokuskan usahanya pada pemberdayaan petani dan pengembangan komoditas rempah di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo.
Di wilayah tersebut, banyak petani sebelumnya hanya bertindak sebagai pemasok bahan baku mentah dengan nilai jual yang terbatas. Agradaya mengubah paradigma tersebut dengan melatih petani agar memahami proses pascapanen dan standar kualitas pasar. Untuk mengatasi kendala cuaca, Agradaya menghadirkan inovasi solar dryer house (Rumah Surya) guna mengoptimalkan proses pengeringan hasil panen.
Hingga kini, Agradaya telah bermitra dengan lebih dari 300 petani lokal dan berhasil membawa rempah nusantara ke pasar global.
“Bagi kami, hilirisasi akan lebih optimal jika kami tidak hanya melahirkan inovasi pengolahan komoditas, namun memberi transfer pengetahuan agar petani dapat memiliki kapasitas untuk meningkatkan nilai komoditas panen mereka kini dan nanti,” jelas Asri.
Melalui pendekatan pengolahan dan transfer pengetahuan, para petani binaan Agradaya tidak lagi sekadar menjadi buruh tani penyedia bahan mentah, melainkan memiliki kapasitas mandiri yang berkelanjutan untuk diwariskan ke generasi berikutnya.
Apresiasi Lewat Svarna Bhumi Award 2026
Kiprah inspiratif yang ditunjukkan oleh Ella Rizki dan Asri Saraswati mendapat pengakuan luas dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata dalam membangun kemandirian ekonomi pedesaan dan sektor pangan, Pupuk Indonesia menganugerahi keduanya melalui ajang Svarna Bhumi Award 2026.
Ajang ini diselenggarakan untuk mengangkat kiprah para wirausaha muda yang berinovasi mengangkat potensi lokal, sekaligus menginspirasi generasi penerus bangsa untuk turut berkontribusi memajukan sektor pertanian nasional.
“Kami percaya generasi muda memegang kunci dalam penguatan ekosistem pertanian. Kami berharap semakin banyak generasi muda berani mengembangkan potensi lokal, membangun usaha, dan berbagi pengetahuan. Dengan inovasi dan kolaborasi berkelanjutan, generasi muda dapat turut membantu petani naik kelas sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” tutup Yehezkiel.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post