youngster.id - Seni tradisional masih punya tempat di kalangan generasi muda. Untuk itu, di tengah dominasi konten digital yang serba cepat, seni tari tradisional juga dituntut beradaptasi agar tetap relevan. Hal ini terlihat dari antusiasi Ksatria Fest 3.0, kompetisi tari tingkat nasional yang memadukan unsur tradisi dengan pendekatan budaya populer.
Festival yang diinisiasi Swargaloka ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan kekayaan budaya Indonesia melalui format yang lebih dekat dengan kehidupan mereka saat ini.
Kompetisi ini telah melalui proses kurasi terhadap 38 video karya yang masuk sejak April 2026. Telah terpilih 15 kelompok tari terbaik untuk melaju ke babak semifinal. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Surakarta, Bandung, Ponorogo, Batam, Sidoarjo, Pontianak, Lampung, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Sukabumi, Mempawah, Gorontalo, Yogyakarta, hingga Belitung.
Creative Director sekaligus inisiator Ksatria Fest, Bathara Saverigadi Dewandoro, mengatakan, konsep tradipop, yaitu memadukan unsur tari tradisi dengan pendekatan budaya populer tersebut mendapat sambutan antusias dari seluruh Indonesia. Hal ini lahir sebagai respons terhadap kebutuhan industri kreatif modern yang bergerak cepat dan mengutamakan visual yang menarik.
“Dalam industri seperti televisi atau media digital, tari tradisi sering kali dipotong secara tidak utuh karena keterbatasan durasi. Tradipop hadir sebagai jawaban, sebuah format tari yang sejak awal dirancang singkat, eye-catching, dan memiliki kekuatan visual. Namun, posisinya bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan sebagai pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya yang lebih dalam,” ungkap Bathara dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Peraih medali emas cabang Traditional Dance Sport pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tersebut menegaskan bahwa tradipop bukan bentuk penyederhanaan budaya, melainkan strategi untuk memperkenalkan seni tradisi kepada audiens yang lebih luas, khususnya generasi muda yang akrab dengan media digital.
“Dengan pendekatan yang lebih dekat dengan budaya populer dan media digital, festival ini dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan kekayaan budaya Indonesia,” kata Bathara lagi.
Anggota Dewan Juri Ksatria Fest 3.0, Siko Setyanto, mengatakan para peserta akan memperebutkan tiga gelar utama, yakni Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Garda Ksatria Tari Indonesia untuk kategori duet, dan Wira Ksatria Tari Indonesia untuk kategori solo.
“Para pemenang nantinya tidak hanya membawa pulang penghargaan, tetapi juga mengemban peran sebagai representasi generasi baru pelaku seni tari Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, Ksatria Fest 3.0 juga menerapkan sistem penjurian yang melibatkan masyarakat luas. Selain dinilai oleh lima juri profesional dari bidang seni pertunjukan, peserta juga akan mendapatkan penilaian dari voters publik yang terdiri dari pelajar, pencinta tari, hingga masyarakat umum.
Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan karya yang terpilih tidak hanya memiliki kualitas teknis yang baik, tetapi juga mampu membangun keterhubungan dan daya tarik di tengah masyarakat. Babak final dari Ksatria Fest 3.0 berlangsung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 4 Juli 2026 mendatang.
Selain kompetisi, Ksatria Fest 3.0 juga menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan kolaborasi yang berlangsung di sejumlah ruang seni di Jakarta, seperti Galeri Indonesia Kaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Teater Usmar Ismail, hingga Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
STEVY WIDIA
