youngster.id - Perusahaan raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat, Nvidia, mengumumkan penambahan otorisasi pembelian kembali saham (share buyback) senilai US$150 miliar (sekitar Rp2.300 triliun). Nilai ini menjadi penambahan program buyback terbesar dalam sejarah korporasi global.
Aksi korporasi ini mempertegas keyakinan Nvidia terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Tambahan tersebut membuat total dana yang tersedia dalam program buyback Nvidia melesat menjadi US$235 miliar, yang rencananya dialokasikan hingga tahun fiskal 2028.
Nilai penambahan ini melampaui rekor Apple pada 2024 yang sebelumnya memegang rekor buyback sebesar US$110 miliar.
CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan bahwa lonjakan arus kas perusahaan didorong oleh transisi masif menuju accelerated computing dan AI.
“Kemampuan Nvidia menghasilkan kas memberikan perusahaan ruang untuk terus berinvestasi dalam teknologi sekaligus mengembalikan modal kepada pemegang saham,” ujar Jensen dalam keterangannya, dikutip Rabu (30/9/2026).
Pasokan Chip AI dan Kinerja Finansial Kuat
Nvidia menjadi salah satu penyedia infrastruktur utama dalam lonjakan investasi AI global. Unit pemrosesan grafis (GPU) besutan Nvidia menjadi komponen kunci untuk melatih dan menjalankan model AI generatif di berbagai pusat data raksasa.
Meskipun persaingan semikonduktor memanas dari kompetitor seperti AMD, Nvidia tetap memproyeksikan pertumbuhan pendapatan hingga 70% untuk tahun fiskal 2028. Sepanjang tahun 2026, saham Nvidia tercatat telah menguat lebih dari 20%.
Posisi keuangan perusahaan juga berada dalam kondisi solid. Laporan Reuters menunjukkan Nvidia mengantongi kas sebesar US$22,44 miliar pada akhir Juli 2026 dengan arus kas operasional yang terus menguat.
Pasar merespons positif pengumuman rekor buyback ini. Saham Nvidia menguat lebih dari 2% pada perdagangan usai pengumuman resmi dirilis.
Tantangan Margin dan Risiko Belanja Modal AI
Di tengah optimisme tersebut, investor tetap mencermati sejumlah tantangan industri. Salah satunya adalah potensi penurunan margin kotor (gross margin) Nvidia dari kisaran 75% menjadi 71%–72% pada kuartal keempat tahun fiskal 2027 akibat lonjakan biaya komponen memori.
Selain itu, keberlanjutan siklus belanja modal (capital expenditure) dari perusahaan teknologi penyedia layanan cloud dan pengembang AI menjadi faktor penentu utama bagi laju permintaan chip Nvidia ke depan. (*AMBS)
















Discussion about this post