Pacu Daya Saing IKM Fesyen dan Kriya, Kemenperin Tingkatkan Kapabilitas Digital dan Pemetaan Pasar

Kapabilitas Digital IKM

Pacu Daya Saing IKM Fesyen dan Kriya, Kemenperin Tingkatkan Kapabilitas Digital dan Pemetaan Pasar (Foto; Ilustrasi/Youngsters.id)

youngster.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) di sektor fesyen dan kriya agar mampu menangkap peluang pasar yang semakin luas. Langkah strategis ini dipacu melalui optimalisasi teknologi serta pemanfaatan kanal digital guna membangun identitas merek, memperluas jangkauan pasar, dan mempererat hubungan dengan konsumen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa transformasi digital menjadi kunci penting bagi IKM untuk meningkatkan skala usaha. Urgensi ini didasari oleh tren pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional yang meningkat signifikan dari 2,43% pada 2024 menjadi 4,93% pada 2025.

“Pelaku IKM saat ini harus memanfaatkan berbagai kanal digital, termasuk sektor IKM fesyen dan kriya yang perlu membangun identitas merek, menciptakan narasi untuk meningkatkan nilai produknya, memahami karakter konsumen, serta menentukan strategi dan jenis konten yang sesuai dengan bisnisnya,” ujar Agus, dikutip Senin (24/8/2026).

Edukasi Pembentukan Narasi dan Customer Journey

Sebagai bagian dari langkah nyata penguatan ekosistem digital, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menggelar program Creative Talk—sebuah rangkaian pendampingan bagian dari Creative Business Incubator (CBI).

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menjelaskan bahwa pemilihan platform digital secara tepat membutuhkan pemahaman mendalam mengenai karakter konsumen serta pemetaan perjalanan konsumen (Customer Journey).

Dalam agenda Creative Talk luring di Kabupaten Badung, Bali, BPIFK menghadirkan beberapa contoh praktik baik dari pelaku usaha seperti Kominela dan Tanteri Ceramic. Melalui lembar kerja Customer Journey, IKM diajak mengevaluasi setiap titik interaksi konsumen sejak tahap pengenalan produk hingga tahap pascatransaksi untuk menciptakan loyalitas.

“Komunikasi dengan konsumen tidak berhenti setelah transaksi dilakukan. Hubungan yang baik justru perlu terus dibangun agar dapat menciptakan loyalitas,” kata Reni.

Strategi Bisnis Berkelanjutan dan Differensiasi Produk

Selain sesi luring, BPIFK juga menyelenggarakan Creative Talk secara daring yang diikuti 94 peserta dari kalangan pelaku IKM, mahasiswa, hingga desainer. Agenda ini menyoroti pentingnya menentukan keunggulan bersaing (competitive advantage) melalui riset pasar dan cerita di balik produk (storytelling).

Kepala BPIFK Dickie Sulistya menyampaikan bahwa keunggulan produk IKM tidak selalu harus berupa penciptaan barang baru secara total, melainkan dapat dibangun lewat desain, kualitas, narasi, hingga pelayanan pascapenjualan.

Kemenperin berharap interaksi dan pendampingan berkelanjutan melalui program ini dapat mempercepat langkah IKM fesyen dan kriya nasional untuk naik kelas serta menembus penetrasi pasar global.

 

HENNI S.

Exit mobile version