PLN Gandeng Australia Dorong Transisi Energi dan Pembiayaan Proyek EFA

PLN Australia transisi energi pembiayaan EFA

PLN Gandeng Australia Dorong Transisi Energi dan Pembiayaan Proyek EFA (Foto: Istimewa/PLN)

youngster.id - PT PLN (Persero) memperkuat kemitraan strategis dengan Pemerintah Australia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk memperluas kerja sama di bidang transisi energi, pengembangan sumber daya manusia, adopsi teknologi, serta pembiayaan dan investasi. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat infrastruktur ketenagalistrikan nasional demi mengakselerasi pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) tahun 2060.

Wakil Direktur Utama PLN, Yusuf Didi Setiarto, menyampaikan bahwa kemitraan ini membuka akses penting bagi perseroan dalam mentransformasikan peran dari penyedia listrik (electricity provider) menjadi penyedia solusi energi (energy solution provider).

“Dukungan Pemerintah Australia memiliki arti penting bagi PLN, baik dalam pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan dan teknologi, maupun penjajakan peluang pembiayaan. Kami berharap kemitraan ini terus berkembang untuk memperkuat kapabilitas PLN dalam menjawab tantangan transisi energi dan menyiapkan pemimpin masa depan di sektor ketenagalistrikan,” ujar Yusuf, dikutip Rabu (4/11/2026).

Sebagai implementasi konkret dari MoU tersebut, PLN dan Pemerintah Australia merancang serangkaian program strategis, termasuk penjajakan dukungan pembiayaan dari Export Finance Australia (EFA) untuk proyek Eastern Java & Bali Grid Strengthening. Proyek ini difokuskan pada peningkatan keandalan jaringan dan pasokan listrik di Jawa Timur dan Bali melalui pembangunan serta modernisasi infrastruktur transmisi, gardu induk, dan jaringan distribusi.

Dari sisi pengembangan teknologi, PLN menjajaki kolaborasi dengan lembaga riset terkemuka Australia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) serta Department of Climate, Environment and Water. Kerjasama teknis ini mencakup pengembangan fleksibilitas jaringan, pengaplikasian Battery Energy Storage System (BESS), serta fleksibilitas operasi pembangkit guna mengoptimalkan integrasi pasokan listrik dari sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bersifat intermiten.

Selain itu, bersama Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, PLN menjalankan program Capacity Building Skenario Iklim dan Ketahanan Sistem untuk memperkuat kesiapan infrastruktur dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui pembuat keputusan berbasis risiko iklim (climate-informed decision-making).

Di bidang pengembangan sumber daya manusia, PLN dan Pemerintah Australia melalui program Australia-Indonesia Climate and Sustainable Infrastructure Partnership (KINETIK) menyusun Three-Year Human Capital Development Roadmap periode 2027–2030. Peta jalan ini diselaraskan dengan target NZE, prioritas Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), serta prinsip Just Energy Transition.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menegaskan komitmen negaranya untuk menjadi bagian penting dalam perjalanan transisi energi di Indonesia.

“Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan transisi energi Indonesia dan memahami bahwa PLN akan memainkan peran sentral dalam elektrifikasi tersebut. Kemitraan ini juga bersifat timbal balik. Kami belajar banyak dari PLN dalam memahami lingkungan dan kebutuhan Indonesia, yang semakin memperkaya hubungan kedua negara,” ungkap Roderick.

Sinergi jangka panjang ini diharapkan mampu memperkokoh kapasitas PLN dalam menghadirkan sistem ketenagalistrikan yang andal, berkelanjutan, dan rendah emisi bagi seluruh masyarakat Indonesia. (*AMBS)

 

Exit mobile version