youngster.id - Pemerintah Kabupaten Purwakarta bersama Yayasan Rumah Energi mendorong keterlibatan aktif perempuan di sekitar kawasan PLTS Terapung Cirata sebagai aktor utama dalam percepatan transisi energi berkeadilan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Forum Multipihak bertajuk “Membangun Transisi Energi yang Inklusif dan Responsif Gender di Wilayah PLTS Terapung Cirata” yang melibatkan pemerintah, pelaku sektor energi, hingga lembaga keuangan.
Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat akses perempuan terhadap pelatihan teknologi ramah lingkungan, skema pembiayaan, perluasan peluang ekonomi, serta partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan di tingkat lokal.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Pilot Project di Maniis
Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Ir. Sri Jaya Midan, M.P., menegaskan bahwa keberhasilan agenda transisi energi yang inklusif memerlukan sinergi terintegrasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, sektor swasta, dan lembaga perbankan.
“Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kita memerlukan kolaborasi dan sinergi yang kuat untuk memastikan program ini memberikan multiplier effect bagi warga lokal. Kami berharap kawasan PLTS Terapung Cirata dan wilayah Kecamatan Maniis dapat menjadi pilot project bagi pengembangan transisi energi yang inklusif,” ujar Sri, dikutip Jum’at (25/9/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, Asisten Deputi Peningkatan Partisipasi Masyarakat bidang Pengarusutamaan Gender KemenPPA, Nani Dwi Wahyuni, S.E., M.IS., menyampaikan bahwa transisi energi tidak dapat dipisahkan dari agenda pemberdayaan ekonomi perempuan. Model seperti Kebun Pangan Perempuan dinilai berhasil mempertemukan isu ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan kepemimpinan perempuan di tingkat tapak.
Program PW4JET Fokus Pada Keterlibatan PEKA
Inisiatif kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pro Women for Just Energy Transition (PW4JET) yang dijalankan oleh Rumah Energi dengan dukungan Ford Foundation. Program PW4JET berfokus di empat desa di Kecamatan Maniis—yaitu Citamiang, Sinargalih, Tegal Datar, dan Pasir Jambu—dengan perhatian khusus kepada kelompok Perempuan Kepala Keluarga (PEKA).
Direktur Eksekutif Rumah Energi, Sumanda Tondang, bersama Project Manager PW4JET, Gustina, menjelaskan bahwa transisi energi berkeadilan wajib menyertakan aspek sosial dan kesetaraan gender.
“Transisi energi tidak akan tercapai jika kita hanya bicara soal teknologi tanpa melihat ketimpangan gender. PW4JET hadir dengan visi menempatkan perempuan sebagai aktor utama, bukan sekadar penerima manfaat pasif,” tegas Gustina.
Pelatihan Cerdas Iklim dan Penguatan Kapasitas
Sebagai bentuk intervensi konkret, serangkaian kegiatan telah dilaksanakan, seperti lokakarya pengarusutamaan GEDSI pada 5 Agustus 2026 serta pelatihan Gender Action Learning System (GALS) pada 26–27 Agustus 2026.
Tahap berikutnya difokuskan pada pelatihan cerdas iklim mencakup pemanfaatan eceng gondok untuk silase dan kompos, pengenalan teknologi biogas, hingga fasilitasi akses pembiayaan dan program CSR guna mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.
HENNI S.
